Lanjutan Cerita: The Devil's Eyes--1st Chapter @ Gagas Media

>> Monday, January 25, 2010




(sambungan Bab 2)

Seperti biasa, aku merasa capek, karena sekali lagi mengalami hari buruk di kampus, ditambah dengan rengekan Sita yang seharian ini membuat bising telingaku.
Saat ini, aku hanya ingin berada di rumahku yang nyaman, makan malam bersama mama dan adikku yang centil, Nila, sambil menunggu papa pulang dari kantor.

Langkahku terasa berat, ketika aku berjalan melintasi trotoar ramai.
Tinggal beberapa meter lagi, sebelum aku sampai di gerbang komplek perumahan dimana rumahku berada dan aku hampir kehabisan tenaga. Ketika akhirnya aku sampai di depan gerbang, aku belum bisa berlega hati, karena masih harus berjuang, berjalan tiga blok untuk mencapai rumahku.
Sebenarnya ada ojek, sih, tapi aku lebih suka berjalan kaki, karena selain baik untuk kesehatan, harga ojek menurutku keterlaluan sekali mahalnya--sepuluh ribu rupiah untuk jarak yang tak seberapa jauhnya.

Aku menolehkan kepala ke pos satpam yang ada di tengah gerbang, dan memberikan anggukan kecil pada seorang pria paruh baya berseragam hitam-hitam yang duduk di dalamnya.
Petugas keamanan itu balas mengangguk, tersenyum padaku, dan aku melanjutkan perjalanan lagi.

Rumah-rumah besar dengan atap tinggi menjulang d kiri-kanan jalan menjadi pemandangan menarik tersendiri bagiku. Sedari kecil, hingga aku sebesar ini, tak pernah bosan diriku mengagumi rumah-rumah yang berjejer di area blok satu dan dua, yang pemiliknya mayoritas adalah keluarga sangat berada, yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan keluargaku.

Walaupun tinggal di perumahan elit ini, bukannya berarti keluargaku berasal dari kalangan keluarga kaya.
Berkecukupan memang, namun belum bisa dibilang kaya--biasa saja.

Rumah yang kutempati bersama orang tua dan adikku saat ini, sebenarnya bukan murni milik keluargaku, melainkan milik seorang pria muda bernama Soma, yang dikenal orang sebagai paranormal hebat, yang entah atas kenapa, tiba-tiba saja, mewariskan rumahnya termasuk isinya pada papa, lengkap dengan akta dan surat-surat kepemilikannya.

Awalnya papa memang menolaknya--benar-benar menolaknya, karena merasa tidak mengenal Soma sama sekali, dan juga khawatir akan ada masalah setelahnya, tapi setelah menemui Soma, dan melihat kondisinya yang kritis akibat kanker paru-paru yang menggerogotinya, ditambah dengan kata-kata Soma yang menegaskan bahwa dia benar-benar ingin mewariskan rumah itu pada papa tanpa ada maksud buruk sama sekali, selain ingin membantu, akhirnya papa luluh, dan menerimanya.
Apalagi waktu itu mama sedang dalam keadaan hamil besar--dia sedang mengandungku--dan butuh tempat tinggal nyaman.

Dan rumah itu memang benar-benar nyaman, sampai-sampai mama memohon pada papa untuk mengijinkannya melahirkan di rumah, dan papa mengabulkannya, begitu juga Soma, yang menurut cerita mama, sangat mendukung keinginannya. Dan selama dua bulan menjelang kelahiranku, dia sangat perhatian; menyediakan segala keperluan persalinan, ikut cemas akan kondisi mama, meskipun kondisi tubuhnya sendiri semakin hari semakin memburuk.

Soma pun akhirnya meninggal di Rumah Sakit;  yang anehnya hari dan jam kematiannya bertepatan dengan hari dan jam kelahiranku.

Papa yang mengurus jenazahnya, mulai dari administrasi di Rumah Sakit sampai dengan pemakamannya, sebagai balas budi atas kebaikannya. Selain itu, karena tidak ada siapa pun lagi--teman, sanak-saudara, kecuali pembantunya, yang dimiliki Soma. Dia sepertinya sebatang kara seumur hidupnya.

Saat upacara pemakamannya dihelat, hanya papa dan mama yang menghadirinya. Namun, ajaibnya, suasananya tidak sesepi yang diperkirakan.

Berdasarkan cerita mama--dia tidak henti-hentinya mengulang-ulang cerita tersebut di setiap kesempatan, kala aku dan Nila sedang berniat mendengarkan, ketika tanah kuburan Soma selesai ditimbun, hujan rintik turun. Angin mendesah lembut, mengantarkan hawa sejuk dan--mama berani bersumpah bahwa dia dan papa memang mendengar--irama lembut seruling bambu. Disusul oleh ratusan kunang-kunang bercahaya warna-warni mendadak muncul, entah darimana. Dan harum bunga tercium dari seluruh penjuru.

Peristiwa itu berlangsug selama tiga detik; terjadi dua puluh tahun lalu, dan kedengaran sangat tidak masuk akal, tapi, setiap mendengar papa atau mama bercerita, aku selalu bisa merasakan betapa nyata dan menakjubkannya hari itu.

Sampai sekarang papa dan mama, selalu berziarah ke makam Soma setiap minggu, membawa serta diriku dan Nila, sambil membawakan bunga Lili putih, bunga kesukaan mama yang juga disukai Soma.




3



SUARA adzan terdengar, dan aku tersentak. Aku menggerutui diriku sendiri, yang berjalan lambat seraya bernostalgia, sampai-sampai tak sadar kalau hari hampir gelap.
Aku baru saja melewati blok kedua, dan mempercepat langkah agar cepat sampai di blok selanjutnya, dimana rumahku berada.

Setengah berlari, aku membelok ke kiri, menyusuri trotoar sempit, melalui rumah demi rumah di kanan-kiri yang telah terang-benderang oleh lampu, menuju rumah paling ujung. Rumah bercat coklat kayu--rumahku.

Seorang wanita, mengenakan daster hijau tua, mendadak muncul dari balik pagar besi rumah nomor dua puluh dua, yang baru  akan kulalui. Kedua tangannya mencengkeram ujung plastik hitam berisi sampah.
Bertubuh sedikit gempal dengan wajah sederhana yang selalu terlihat ramah, Tante Heidi, tetangga sebelah rumahku tersenyum manis dan memberi ucapan selamat sore.

"Sore juga, Tante," balasku, memperlambat langkah.

"Baru pulang, Nali?" Tante Heidi bertanya, sambil menjejalkan dua plastik besar yang dipegangnya ke dalam bak sampah.

"Ya, Tante," anggukku, nyengir. "Yuk, Tante," pamitku.

Tente Heidi balas mengangguk, kembali masuk ke dalam pekarangan rumahnya, sementara aku bergegas melanjutkan berjalan. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba aku berhenti, karena merasakan sesuatu yang... aku merasa--sepertinya. ada orang yang sedang memerhatikanku dari belakang.
Selain itu, hidungku mencium bau aneh... Bau hangus... daging terbakar.

Perlahan, aku memutar badanku, bermaksud membuktikan kecurigaanku, tapi ternyata, tidak ada siapa atau apa pun di belakangku. Aku memandang berkeliling, dan tetap tidak menemukan seorang pun.

Hanya perasaanku saja, aku membatin.

Kuembuskan napas perlahan, kemudian berpaling, hendak melanjutkan berjalan, tapi belum sampai aku menggerakkan kaki, badanku mendadak kaku, merasa sangat terkejut.

Tak beberapa jauh di depanku, seorang pria bertubuh jangkung, kurus, yang seluruh tubuhnya terbalut pakaian hitam, berdiri diam tak bergerak.
Dia menunduk, menatap permukaan trotoar, sehingga rambut depannya terjurai menyelubungi  wajahnya, membuatku tak dapat melihat rupanya dengan jelas.

Siapa dia, aku bertanya-tanya dalam hati.

Aku dapat melihat auranya yang berwarna hitam-kemerahan--berarti dia bukan manusia?
Tapi warna aura yang seperti itu tak pernah kulihat sebelumnya. Dan penampilannya--mulai dari pakaian sampai dengan rambut merahnya, belum pernah kujumpai dimana pun.

Seingatku, tidak ada 'mereka' yang pernah kujumpai berwujud seperti pria di depanku ini. Jadi, siapa dia?

Apa yang terjadi setelahnya benar-benar aneh. Tiba-tiba saja hawa di sekelilingku menghangat, dan semakin lama semakin panas, membuat napasku menjadi amat sesak. Paru-paruku seolah mengecil, kehilangan oksigen. Suara-suara yang tadi menemaniku; suara adzan, jangkrik, derum kendaraan kini raib, berganti keheningan ganjil yang tak menyenangkan. Kupingku seakan tuli.

Kuraba dadaku yang berdebar kencang, mengusap-usapnya, berharap paru-paruku masih dapat berfungsi selama beberapa waktu.

Pria berambut merah di depanku masih diam memantung, tak bergerak sama sekali. Dan itu semakin membuatku takut. Apalagi seluruh tubuhku menjadi sangat lemas, benar-benar kehilangan tenaga. Kakiku gemetar tak keruan.

Aku takut--takut sekali, untuk pertama kalinya.

Tiba-tiba, pria itu mengangkat wajahnya. Dan perlahan, matanya membuka menatapku. Aku membeliak, merasa luar biasa ngeri, saat melihat wajahnya yang luar biasa pucat, dan matanya yang seluruhnya berwarna hitam, tanpa pupil.

Bulu tengkukku berdiri, dan aku semakin gemetaran. Keringat dingin bercucuran dari kepalaku, dan pikiranku kacau-balau.
Aku ingin mundur dan berlari pergi, tapi kakiku ini sepertinya terbuat dari agar-agar, dan aku yakin akan terjatuh bila sedikit saja kugerakkan. Jadi, aku hanya bisa berdiri diam, tanpa melakukan apa-apa.
Ingin berteriak minta tolong, namun bibirku ini sulit sekali terangkat. Kaku.


Mendadak, tanpa peringatan, entah bagaimana awalnya, pria berambut merah itu melesat secepat kilat ke arahku. Matanya yang hitam terpancang tajam kepadaku, yang dengan panik segera mundur ke belakang.

Mataku melebar ngeri kala sebuah pedang besar panjang mengkilat, tiba-tiba muncul di tangan pria itu, yang  dengan sigap diangkatnya, dan diayunkannya, siap menebasku. Dan aku... Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain pasrah, menantikan detik-detik senjata itu mengenai tubuhku, yang geraknya terlihat bagai adegan lambat di mataku.

Perlahan kupejamkan mataku, seraya berpikir, inikah akhir hidupku?

Yang terjadi selanjutnya sangat aneh. Ketika jarak pedang dengan tubuhku tinggal beberapa inci saja, mendadak muncul sesosok putih dari arah belakangku, yang dengan gerakan cepat menangkis pedang pria berambut merah itu dengan pedangnya yang berbentuk sabit besar, dan secepat kilat--aku berteriak ketakutan--mengayunkannya lagi  ke leher pria itu. Menebas kepalanya.

Lemas kakiku. Tidak satu pun dapat menyangga tubuhku lagi. Aku jatuh terduduk di atas trotoar. Mataku mengawasi kepala pria berambut merah itu menggelinding ke tengah jalan dengan mata masih melotot. Menakutkan.

Dunia kembali normal seketika.

Embusan angin terasa lagi, mengembalikan oksigen yang dihirup dengan suka cita oleh hidungku. Telingaku tak lagi tuli; seolah ada yang membuka sumbat di lubangnya, mengembalikan suara-suara di sekitarku.

Udara panas, bau daging hangus terbakar, berganti udara dingin malam yang mengantarkan harum bunga yang menenangkan.

Pelan-pelan, dalam napas yang masih terengah, aku mendongak. untuk melihat sosok penolongku yang berdiri membelakangiku.
Dia seorang pria, bertubuh tinggi dan tegap. Rambutnya hitam dan sangat lurus, melambai sedikit karena tertiup angin.

Pria itu kemudian menolehkan wajahnya ke arahku, menatapku dengan matanya yang--biru.

Aku terpana. Dia... sangat tampan.

Matanya yang biru itu, sangat jernih, bagaikan batu nilam. Wajahnya lembut dan... betapa memesonanya. Seumur hidup aku tidak pernah melihat pria sesempurna dirinya.

Aku ingin mengucapkan sesuatu padanya--ucapan terima kasih mungkin, atau apa pun yang terlintas di benakku. Namun, otakku sekarang ini beku, mungkin masih terlalu shock atas kejadian yang terjadi beberapa saat sebelumnya, sehingga aku hanya bisa bengong melongo menatapnya. Selain itu, kepalaku tiba-tiba merasa sangat pusing, dan menjadi sangat sakit; berdenyut-denyut .

Aku meremas rambutku, berharap dapat meredakan nyeri yang kurasakan, namun sakitnya semakin menjadi-jadi, dan mataku berkunang-kunang, nanar, dan terasa berat.

Dan akhirnya sedetik kemudian semuanya gelap.

(bersambung)


Novel by Putu Indar Meilita

4 comments:

Yessi January 25, 2010 at 11:12 AM  

udah bab 3 ya? ;)

aku bab 1 aja belon niy..hiks...

merry go round January 27, 2010 at 10:12 PM  

from now on....saya akan jadi pembaca setia the devil eyes :) great story indeed.

lita January 28, 2010 at 10:15 PM  

@Yessi: Ayo, semangat!!! @Merry:Thanks!Thanks!Thanks... kata2 itu membuatku terenyuh! Dan semangat!

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP