Lanjutan Cerita: The Devil's Eyes--1st Chapter @ Gagas Media

>> Saturday, January 23, 2010




2


TIDAK seperti biasa, mata kuliah Psikolinguistik yang biasanya menarik untukku, hari ini jadi sangat menjenuhkan.
Berkali-kali aku mengerling jam tanganku, berharap kelas ini selesai, dan aku bisa segera pulang, menghindari Sita, yang terus-terusan mendesiskan permohoan maaf dari kursi sebelahku, membuatku tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan ulasan-ulasan menggaung dari dosenku, Bu Penni.

"Aku mohon, Nali," kata Sita memelas, "hanya kau yang bisa membantuku, memberitahukan orang tuaku dimana tubuhku berada. Kasihan mereka--mamaku terutama, dia pasti sangat sedih dan bingung. Aku minta maaf selama ini jahat padamu... Aku mohon..., tolong aku. Kau bisa melihatku... Hanya kau harapanku..."

Aku bergeming, tetap memancangkan matau ke buku yang terbuka di depanku, berusaha menulikan telinga. Tidak menghiraukan Sita sama sekali.
Kekesalanku padanya belum mereda; masih belum bisa memaafkannya karena telah menyebarkan gosip aneh tentangku, yang menyebabkan hari-hariku di kampus selama dua tahun ini jadi tidak menyenangkan.

Kalau saja mataku normal seperti orang lainnya, pasti semua ejekan dan  penindasan ini takkan pernah ada. Dan aku tidak perlu berurusan dengan Sita, atau jiwa penasaran lain, yang seperti dirinya kerap mendatangiku untuk minta bantuan.

Usai kelas Sita tetap mengikutiku, tanpa pantang menyerah terus meminta tolong padaku.
Aku tidak mengacuhkannya, berjalan secepat yang aku bisa melewati koridor yang dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi yang juga baru keluar dari kelasnya masing-masing, menyusuri koridor demi koridor yang menggiring kami ke pintu keluar.

"Nali, aku mohon..." kata Sita, seraya mengimbangi langkahku saat kami hampir mendekati ujung koridor. "Nali, jangan biarkan aku begini."

Tidak ada satu pun kalimatnya yang kubalas; aku mengabaikannya sama sekali, berlari secepat mungkin menuruni undakan.

"Nali! Tunggu, Nali! Na--"

Suara Sita mendadak kedengaran seperti tercekat, dan suara langkahnya juga terhenti.
Aku mengernyit heran, ikut berhenti, kemudian menoleh ke belakang. Mataku langsung melebar begitu melihat Sita yang bertingkah ganjil; sedang berusaha mendorong sesuatu di depannya--sesuatu seperti tembok tak terlihat yang menghalanginya untuk maju ke depan.

Mata Sita menatapku ngeri. Mulutnya bergerak-gerak memanggilku, tapi suaranya terdengar bagai gaung jauh di telingaku.

Aku merasa iba, namun aku sedang tidak berniat membantunya saat ini. Aku perlu..., berpikir baik-baik. Jadi dengan berat hati, aku berpaling, melanjutkan berjalan dan tidak menengok ke belakang lagi.

"See you later, Sita" gumamku, pelan.

***

Aku duduk termenung dengan wajah menghadap ke jendela kusam di sebelahku. Mataku bergerak-gerak di dalam rongganya ke kanan dan ke kiri, memerhatikan kendaraan lain yang melaju di sebelah bus yang kutumpangi.

Sore menjelang, dan langit di atas mulai menyemburat merah.
Cahaya kuning bulatan besar di angkasa yang menyilaukan mata seharian ini, berangsur meredup dan hawa panas tak lagi mengganggu. Meskipun begitu, butir-butir keringat masih bermunculan di dahiku, dan sesekali kuseka menggunakan punggung tanganku.

Pikiranku masih penuh Sita.
Masih heran dengan kejadian beberapa waktu lalu, ketika dia mendadak terhenti di ujung koridor, tidak bisa melanjutkan berjalan sama sekali--tidak bisa keluar dari kampus.

Biasnya jiwa penasaean seperti itu, saat dia meninggal tangan atau kakinya terikat ke belakang, membatasi mobilitasnya, menyebabkannyatidak bisa pergi kemana-mana selain area dimana dia meninggal.

Berarti, Sita meninggal di kampus? Aku bertanya-tanya dalam hati. Tapi, bukankah menurut rumor yang beredar di kampus, dia menghilang setelah pergi bersama pria bermobil Porsche merah?

"Green Corner! Green Corner!" Kernet bus berseru tiba-tiba, membuatku terlonjak.
Sudah sampai, batinku, kemudian cepat-cepat berdiri, beringsut pelan ke pintu belakang bersama penumpang lain yang juga akan turun.

Tak berapa lama bus berhenti, dan aku bergegas turun, menapakkan kaki ke atas trotoar di depan halte, yang sebelumnya dipadati calon penumpang bus, yang kini telah naik ke atas bus, mengisi kekosongan yang ditinggalkan penumpang sebelumnya.

Hari hampir senja, dan aku harus cepat sampai di rumah sebelum gelap datang.
Malam hari adalah waktu yang sangat efisien untuk 'mereka' menampakkan diri, dan aku sedang malas beramah-tamah dengan mereka.

(bersambung)

Novel by Putu Indar Meilita

Note:
Yang belum baca 1st Chapternya klik di sini

1 comments:

Syifa Ahira January 24, 2010 at 12:36 PM  

semakin menarik kayanya.. jadi penasaran baca lanjutannya.. ditunggu ya lit..

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP