I'm happihhhhh!

>> Thursday, January 28, 2010

Saya senang sekali malam ini!

Naskah novel saya, The Devil's Eyes, punya pengikut setia, namanya Rossa alias Merry Go Round (makasih, ya!)

Saya baru aja bisa liat blog lagi, dan baru buka blogger kala ngeliat, commentnya nambah 1, pas saya klik!, eh tulisannya enak banget dibaca...
Yang pasti dia appreciate tulisan saya... si Devil's Eyes itu
Senangnya....

Saya jadi tambah semangat untuk ngelanjutin (kudu, Lita!)...

Ditambah lagi... saya lupa banget ngePost, kalo 1st Chapter saya dimuat lagi di KandanGagas, judulnya, Lembayung di Pantai Selatan (yang mo baca klik di sini).

dan meskipun baru 1 yang baca  n komen, tapi kata2 yang dia tulis itu, angin segar banget buat saya...
Dia bilang--Thea bilang: ceritanya seru n' sexy... dan dia minta saya bikin lanjutannya...

Read more...

Lanjutan Cerita: The Devil's Eyes--1st Chapter @ Gagas Media

>> Monday, January 25, 2010




(sambungan Bab 2)

Seperti biasa, aku merasa capek, karena sekali lagi mengalami hari buruk di kampus, ditambah dengan rengekan Sita yang seharian ini membuat bising telingaku.
Saat ini, aku hanya ingin berada di rumahku yang nyaman, makan malam bersama mama dan adikku yang centil, Nila, sambil menunggu papa pulang dari kantor.

Langkahku terasa berat, ketika aku berjalan melintasi trotoar ramai.
Tinggal beberapa meter lagi, sebelum aku sampai di gerbang komplek perumahan dimana rumahku berada dan aku hampir kehabisan tenaga. Ketika akhirnya aku sampai di depan gerbang, aku belum bisa berlega hati, karena masih harus berjuang, berjalan tiga blok untuk mencapai rumahku.
Sebenarnya ada ojek, sih, tapi aku lebih suka berjalan kaki, karena selain baik untuk kesehatan, harga ojek menurutku keterlaluan sekali mahalnya--sepuluh ribu rupiah untuk jarak yang tak seberapa jauhnya.

Aku menolehkan kepala ke pos satpam yang ada di tengah gerbang, dan memberikan anggukan kecil pada seorang pria paruh baya berseragam hitam-hitam yang duduk di dalamnya.
Petugas keamanan itu balas mengangguk, tersenyum padaku, dan aku melanjutkan perjalanan lagi.

Rumah-rumah besar dengan atap tinggi menjulang d kiri-kanan jalan menjadi pemandangan menarik tersendiri bagiku. Sedari kecil, hingga aku sebesar ini, tak pernah bosan diriku mengagumi rumah-rumah yang berjejer di area blok satu dan dua, yang pemiliknya mayoritas adalah keluarga sangat berada, yang sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan keluargaku.

Walaupun tinggal di perumahan elit ini, bukannya berarti keluargaku berasal dari kalangan keluarga kaya.
Berkecukupan memang, namun belum bisa dibilang kaya--biasa saja.

Rumah yang kutempati bersama orang tua dan adikku saat ini, sebenarnya bukan murni milik keluargaku, melainkan milik seorang pria muda bernama Soma, yang dikenal orang sebagai paranormal hebat, yang entah atas kenapa, tiba-tiba saja, mewariskan rumahnya termasuk isinya pada papa, lengkap dengan akta dan surat-surat kepemilikannya.

Awalnya papa memang menolaknya--benar-benar menolaknya, karena merasa tidak mengenal Soma sama sekali, dan juga khawatir akan ada masalah setelahnya, tapi setelah menemui Soma, dan melihat kondisinya yang kritis akibat kanker paru-paru yang menggerogotinya, ditambah dengan kata-kata Soma yang menegaskan bahwa dia benar-benar ingin mewariskan rumah itu pada papa tanpa ada maksud buruk sama sekali, selain ingin membantu, akhirnya papa luluh, dan menerimanya.
Apalagi waktu itu mama sedang dalam keadaan hamil besar--dia sedang mengandungku--dan butuh tempat tinggal nyaman.

Dan rumah itu memang benar-benar nyaman, sampai-sampai mama memohon pada papa untuk mengijinkannya melahirkan di rumah, dan papa mengabulkannya, begitu juga Soma, yang menurut cerita mama, sangat mendukung keinginannya. Dan selama dua bulan menjelang kelahiranku, dia sangat perhatian; menyediakan segala keperluan persalinan, ikut cemas akan kondisi mama, meskipun kondisi tubuhnya sendiri semakin hari semakin memburuk.

Soma pun akhirnya meninggal di Rumah Sakit;  yang anehnya hari dan jam kematiannya bertepatan dengan hari dan jam kelahiranku.

Papa yang mengurus jenazahnya, mulai dari administrasi di Rumah Sakit sampai dengan pemakamannya, sebagai balas budi atas kebaikannya. Selain itu, karena tidak ada siapa pun lagi--teman, sanak-saudara, kecuali pembantunya, yang dimiliki Soma. Dia sepertinya sebatang kara seumur hidupnya.

Saat upacara pemakamannya dihelat, hanya papa dan mama yang menghadirinya. Namun, ajaibnya, suasananya tidak sesepi yang diperkirakan.

Berdasarkan cerita mama--dia tidak henti-hentinya mengulang-ulang cerita tersebut di setiap kesempatan, kala aku dan Nila sedang berniat mendengarkan, ketika tanah kuburan Soma selesai ditimbun, hujan rintik turun. Angin mendesah lembut, mengantarkan hawa sejuk dan--mama berani bersumpah bahwa dia dan papa memang mendengar--irama lembut seruling bambu. Disusul oleh ratusan kunang-kunang bercahaya warna-warni mendadak muncul, entah darimana. Dan harum bunga tercium dari seluruh penjuru.

Peristiwa itu berlangsug selama tiga detik; terjadi dua puluh tahun lalu, dan kedengaran sangat tidak masuk akal, tapi, setiap mendengar papa atau mama bercerita, aku selalu bisa merasakan betapa nyata dan menakjubkannya hari itu.

Sampai sekarang papa dan mama, selalu berziarah ke makam Soma setiap minggu, membawa serta diriku dan Nila, sambil membawakan bunga Lili putih, bunga kesukaan mama yang juga disukai Soma.




3



SUARA adzan terdengar, dan aku tersentak. Aku menggerutui diriku sendiri, yang berjalan lambat seraya bernostalgia, sampai-sampai tak sadar kalau hari hampir gelap.
Aku baru saja melewati blok kedua, dan mempercepat langkah agar cepat sampai di blok selanjutnya, dimana rumahku berada.

Setengah berlari, aku membelok ke kiri, menyusuri trotoar sempit, melalui rumah demi rumah di kanan-kiri yang telah terang-benderang oleh lampu, menuju rumah paling ujung. Rumah bercat coklat kayu--rumahku.

Seorang wanita, mengenakan daster hijau tua, mendadak muncul dari balik pagar besi rumah nomor dua puluh dua, yang baru  akan kulalui. Kedua tangannya mencengkeram ujung plastik hitam berisi sampah.
Bertubuh sedikit gempal dengan wajah sederhana yang selalu terlihat ramah, Tante Heidi, tetangga sebelah rumahku tersenyum manis dan memberi ucapan selamat sore.

"Sore juga, Tante," balasku, memperlambat langkah.

"Baru pulang, Nali?" Tante Heidi bertanya, sambil menjejalkan dua plastik besar yang dipegangnya ke dalam bak sampah.

"Ya, Tante," anggukku, nyengir. "Yuk, Tante," pamitku.

Tente Heidi balas mengangguk, kembali masuk ke dalam pekarangan rumahnya, sementara aku bergegas melanjutkan berjalan. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba aku berhenti, karena merasakan sesuatu yang... aku merasa--sepertinya. ada orang yang sedang memerhatikanku dari belakang.
Selain itu, hidungku mencium bau aneh... Bau hangus... daging terbakar.

Perlahan, aku memutar badanku, bermaksud membuktikan kecurigaanku, tapi ternyata, tidak ada siapa atau apa pun di belakangku. Aku memandang berkeliling, dan tetap tidak menemukan seorang pun.

Hanya perasaanku saja, aku membatin.

Kuembuskan napas perlahan, kemudian berpaling, hendak melanjutkan berjalan, tapi belum sampai aku menggerakkan kaki, badanku mendadak kaku, merasa sangat terkejut.

Tak beberapa jauh di depanku, seorang pria bertubuh jangkung, kurus, yang seluruh tubuhnya terbalut pakaian hitam, berdiri diam tak bergerak.
Dia menunduk, menatap permukaan trotoar, sehingga rambut depannya terjurai menyelubungi  wajahnya, membuatku tak dapat melihat rupanya dengan jelas.

Siapa dia, aku bertanya-tanya dalam hati.

Aku dapat melihat auranya yang berwarna hitam-kemerahan--berarti dia bukan manusia?
Tapi warna aura yang seperti itu tak pernah kulihat sebelumnya. Dan penampilannya--mulai dari pakaian sampai dengan rambut merahnya, belum pernah kujumpai dimana pun.

Seingatku, tidak ada 'mereka' yang pernah kujumpai berwujud seperti pria di depanku ini. Jadi, siapa dia?

Apa yang terjadi setelahnya benar-benar aneh. Tiba-tiba saja hawa di sekelilingku menghangat, dan semakin lama semakin panas, membuat napasku menjadi amat sesak. Paru-paruku seolah mengecil, kehilangan oksigen. Suara-suara yang tadi menemaniku; suara adzan, jangkrik, derum kendaraan kini raib, berganti keheningan ganjil yang tak menyenangkan. Kupingku seakan tuli.

Kuraba dadaku yang berdebar kencang, mengusap-usapnya, berharap paru-paruku masih dapat berfungsi selama beberapa waktu.

Pria berambut merah di depanku masih diam memantung, tak bergerak sama sekali. Dan itu semakin membuatku takut. Apalagi seluruh tubuhku menjadi sangat lemas, benar-benar kehilangan tenaga. Kakiku gemetar tak keruan.

Aku takut--takut sekali, untuk pertama kalinya.

Tiba-tiba, pria itu mengangkat wajahnya. Dan perlahan, matanya membuka menatapku. Aku membeliak, merasa luar biasa ngeri, saat melihat wajahnya yang luar biasa pucat, dan matanya yang seluruhnya berwarna hitam, tanpa pupil.

Bulu tengkukku berdiri, dan aku semakin gemetaran. Keringat dingin bercucuran dari kepalaku, dan pikiranku kacau-balau.
Aku ingin mundur dan berlari pergi, tapi kakiku ini sepertinya terbuat dari agar-agar, dan aku yakin akan terjatuh bila sedikit saja kugerakkan. Jadi, aku hanya bisa berdiri diam, tanpa melakukan apa-apa.
Ingin berteriak minta tolong, namun bibirku ini sulit sekali terangkat. Kaku.


Mendadak, tanpa peringatan, entah bagaimana awalnya, pria berambut merah itu melesat secepat kilat ke arahku. Matanya yang hitam terpancang tajam kepadaku, yang dengan panik segera mundur ke belakang.

Mataku melebar ngeri kala sebuah pedang besar panjang mengkilat, tiba-tiba muncul di tangan pria itu, yang  dengan sigap diangkatnya, dan diayunkannya, siap menebasku. Dan aku... Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain pasrah, menantikan detik-detik senjata itu mengenai tubuhku, yang geraknya terlihat bagai adegan lambat di mataku.

Perlahan kupejamkan mataku, seraya berpikir, inikah akhir hidupku?

Yang terjadi selanjutnya sangat aneh. Ketika jarak pedang dengan tubuhku tinggal beberapa inci saja, mendadak muncul sesosok putih dari arah belakangku, yang dengan gerakan cepat menangkis pedang pria berambut merah itu dengan pedangnya yang berbentuk sabit besar, dan secepat kilat--aku berteriak ketakutan--mengayunkannya lagi  ke leher pria itu. Menebas kepalanya.

Lemas kakiku. Tidak satu pun dapat menyangga tubuhku lagi. Aku jatuh terduduk di atas trotoar. Mataku mengawasi kepala pria berambut merah itu menggelinding ke tengah jalan dengan mata masih melotot. Menakutkan.

Dunia kembali normal seketika.

Embusan angin terasa lagi, mengembalikan oksigen yang dihirup dengan suka cita oleh hidungku. Telingaku tak lagi tuli; seolah ada yang membuka sumbat di lubangnya, mengembalikan suara-suara di sekitarku.

Udara panas, bau daging hangus terbakar, berganti udara dingin malam yang mengantarkan harum bunga yang menenangkan.

Pelan-pelan, dalam napas yang masih terengah, aku mendongak. untuk melihat sosok penolongku yang berdiri membelakangiku.
Dia seorang pria, bertubuh tinggi dan tegap. Rambutnya hitam dan sangat lurus, melambai sedikit karena tertiup angin.

Pria itu kemudian menolehkan wajahnya ke arahku, menatapku dengan matanya yang--biru.

Aku terpana. Dia... sangat tampan.

Matanya yang biru itu, sangat jernih, bagaikan batu nilam. Wajahnya lembut dan... betapa memesonanya. Seumur hidup aku tidak pernah melihat pria sesempurna dirinya.

Aku ingin mengucapkan sesuatu padanya--ucapan terima kasih mungkin, atau apa pun yang terlintas di benakku. Namun, otakku sekarang ini beku, mungkin masih terlalu shock atas kejadian yang terjadi beberapa saat sebelumnya, sehingga aku hanya bisa bengong melongo menatapnya. Selain itu, kepalaku tiba-tiba merasa sangat pusing, dan menjadi sangat sakit; berdenyut-denyut .

Aku meremas rambutku, berharap dapat meredakan nyeri yang kurasakan, namun sakitnya semakin menjadi-jadi, dan mataku berkunang-kunang, nanar, dan terasa berat.

Dan akhirnya sedetik kemudian semuanya gelap.

(bersambung)


Novel by Putu Indar Meilita

Read more...

Lanjutan Cerita: The Devil's Eyes--1st Chapter @ Gagas Media

>> Saturday, January 23, 2010




2


TIDAK seperti biasa, mata kuliah Psikolinguistik yang biasanya menarik untukku, hari ini jadi sangat menjenuhkan.
Berkali-kali aku mengerling jam tanganku, berharap kelas ini selesai, dan aku bisa segera pulang, menghindari Sita, yang terus-terusan mendesiskan permohoan maaf dari kursi sebelahku, membuatku tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan ulasan-ulasan menggaung dari dosenku, Bu Penni.

"Aku mohon, Nali," kata Sita memelas, "hanya kau yang bisa membantuku, memberitahukan orang tuaku dimana tubuhku berada. Kasihan mereka--mamaku terutama, dia pasti sangat sedih dan bingung. Aku minta maaf selama ini jahat padamu... Aku mohon..., tolong aku. Kau bisa melihatku... Hanya kau harapanku..."

Aku bergeming, tetap memancangkan matau ke buku yang terbuka di depanku, berusaha menulikan telinga. Tidak menghiraukan Sita sama sekali.
Kekesalanku padanya belum mereda; masih belum bisa memaafkannya karena telah menyebarkan gosip aneh tentangku, yang menyebabkan hari-hariku di kampus selama dua tahun ini jadi tidak menyenangkan.

Kalau saja mataku normal seperti orang lainnya, pasti semua ejekan dan  penindasan ini takkan pernah ada. Dan aku tidak perlu berurusan dengan Sita, atau jiwa penasaran lain, yang seperti dirinya kerap mendatangiku untuk minta bantuan.

Usai kelas Sita tetap mengikutiku, tanpa pantang menyerah terus meminta tolong padaku.
Aku tidak mengacuhkannya, berjalan secepat yang aku bisa melewati koridor yang dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi yang juga baru keluar dari kelasnya masing-masing, menyusuri koridor demi koridor yang menggiring kami ke pintu keluar.

"Nali, aku mohon..." kata Sita, seraya mengimbangi langkahku saat kami hampir mendekati ujung koridor. "Nali, jangan biarkan aku begini."

Tidak ada satu pun kalimatnya yang kubalas; aku mengabaikannya sama sekali, berlari secepat mungkin menuruni undakan.

"Nali! Tunggu, Nali! Na--"

Suara Sita mendadak kedengaran seperti tercekat, dan suara langkahnya juga terhenti.
Aku mengernyit heran, ikut berhenti, kemudian menoleh ke belakang. Mataku langsung melebar begitu melihat Sita yang bertingkah ganjil; sedang berusaha mendorong sesuatu di depannya--sesuatu seperti tembok tak terlihat yang menghalanginya untuk maju ke depan.

Mata Sita menatapku ngeri. Mulutnya bergerak-gerak memanggilku, tapi suaranya terdengar bagai gaung jauh di telingaku.

Aku merasa iba, namun aku sedang tidak berniat membantunya saat ini. Aku perlu..., berpikir baik-baik. Jadi dengan berat hati, aku berpaling, melanjutkan berjalan dan tidak menengok ke belakang lagi.

"See you later, Sita" gumamku, pelan.

***

Aku duduk termenung dengan wajah menghadap ke jendela kusam di sebelahku. Mataku bergerak-gerak di dalam rongganya ke kanan dan ke kiri, memerhatikan kendaraan lain yang melaju di sebelah bus yang kutumpangi.

Sore menjelang, dan langit di atas mulai menyemburat merah.
Cahaya kuning bulatan besar di angkasa yang menyilaukan mata seharian ini, berangsur meredup dan hawa panas tak lagi mengganggu. Meskipun begitu, butir-butir keringat masih bermunculan di dahiku, dan sesekali kuseka menggunakan punggung tanganku.

Pikiranku masih penuh Sita.
Masih heran dengan kejadian beberapa waktu lalu, ketika dia mendadak terhenti di ujung koridor, tidak bisa melanjutkan berjalan sama sekali--tidak bisa keluar dari kampus.

Biasnya jiwa penasaean seperti itu, saat dia meninggal tangan atau kakinya terikat ke belakang, membatasi mobilitasnya, menyebabkannyatidak bisa pergi kemana-mana selain area dimana dia meninggal.

Berarti, Sita meninggal di kampus? Aku bertanya-tanya dalam hati. Tapi, bukankah menurut rumor yang beredar di kampus, dia menghilang setelah pergi bersama pria bermobil Porsche merah?

"Green Corner! Green Corner!" Kernet bus berseru tiba-tiba, membuatku terlonjak.
Sudah sampai, batinku, kemudian cepat-cepat berdiri, beringsut pelan ke pintu belakang bersama penumpang lain yang juga akan turun.

Tak berapa lama bus berhenti, dan aku bergegas turun, menapakkan kaki ke atas trotoar di depan halte, yang sebelumnya dipadati calon penumpang bus, yang kini telah naik ke atas bus, mengisi kekosongan yang ditinggalkan penumpang sebelumnya.

Hari hampir senja, dan aku harus cepat sampai di rumah sebelum gelap datang.
Malam hari adalah waktu yang sangat efisien untuk 'mereka' menampakkan diri, dan aku sedang malas beramah-tamah dengan mereka.

(bersambung)

Novel by Putu Indar Meilita

Note:
Yang belum baca 1st Chapternya klik di sini

Read more...

update'an gak jelas dan agak maksa

>> Friday, January 22, 2010


LAGI fall in love banget sama Kim Nam Gil


Pemeran Bi Dam, di serial Korea yang lagi booming saat ini, The Great Queen Seon Deok.

Sekilas, tampangnya emang rada gak meyakinkan, tapi berdasarkan fakta dan penelusuran dari para penonton QSD, mayoritas mereka semua 'in love' ma dia... ato yang biasa mereka teriakin dengan histeris ke telinga saya, "Kecanduan BI-DAM!!!"
Sama kaya saya. Hehehehe.

Kebetulan saya emang suka banget sama tampang2 bengal kaya dia, komiki, and humoris.

Read more...

Let Me Help U

>> Wednesday, January 20, 2010


To: My bru

Hei,
Kau bilang, tidak ada orang yang peduli padamu.
Kau salah.

Hei,
Kau bilang semua orang membuangmu.
Kau juga salah.

Hei,
Kau bilang kau takut menjalaninya sendiri
Ups! Kau salah lagi.

Hei,
Kau bilang hidupmu hancur sudah
Hahaha... kau sangat salah

Hei, Bang
Saat ini kau sedang terluka oleh kesakitan dan kesedihanmu
Pikiranmu menguasaimu, bukan dirimu

Kau bukanlah kau,
melainkan idiot yang terpeleset kerikil hidup

Tidak ada yang meninggalkanmu, kaulah yang menjauh
Tidak ada yang membuangmu, kau hanya merasa bersalah

 Kau tidak harus mengatasinya sendirian,
karena masih ada orang-orang yang menyayangimu,
dan kau tinggal meminta mereka membantumu

Minta maaf, dan maafkan mereka,
dengan sungguh2 dan tekat.

Kau tidak perlu takut kehilangan,
Aku masih di sini, untuk membantumu
Kapan pun kau jatuh, aku akan selalu berusaha meraihmu

I'm still here.


So, let me help u, Bang













Read more...

Kisah Seorang Sahabat

>> Tuesday, January 19, 2010


 Saying goodbye to someone you once considered a friend isn't easy
Gak biasanya, saya coba 'on-line'in Y!M saya, malam ini.
Dan saya ngebaca status salah satu sahabat saya. Dia tulis di situ, "Bye, Bali... for good."
Kaget, saya langsung IM'in dia, nanya apa maksud statusnya.
Ternyata, dia bener2 mo ninggalin Bali, dengan alasan yang menurut saya, gak bisa dipercaya--dia masuk DPO (daftar pencarian orang) Polda Bali, karena kasus narkoba; heroin. Dia pecandu.

Demi Tuhan, dia, yang saya kenal, bukan orang yang kliatan suka ngedrug, bahkan nyimeng.
Jadi saya sangat shock dengernya. Saya masih sangka dia bercanda. Tapi ternyata, saat saya telepon, dia nangis sejadi-jadinya.

Pada dasarnya, dia nyesel banget bisa terlibat drug gitu--heroin lagi, tapi dia juga kecewa sama sikap orang2 terdeketnya, yang menurut dia udah ngebuang dia gara2 kasus ini.

Saya gak bisa ngomong apa pun masalah itu, karena jelas, keluarganya berhak marah, temen2nya menjauh, akibat perbuatan dia.
Dia 100% gak bisa membela diri, karena emang salah.

Tapi jelas, bukan karena itu, saya jadi ikutan gloomy. Saya sedih... karena saya gak akan bisa ketemu dia lagi, entah untuk berapa lama.
Meskipun masih bisa telpon, tetep aja, lebih nyaman kalo kita ketemu di satu tempat, dimana kaki kita masing2, masih berpijak di tanah yang sama.
Dan dia... akan pergi... berat sekali, untuk ngucapin 'Good-bye'.

Sebagai temen, saya merasa gak berdaya. Saya sedih, marah, kecewa, iba, cemas, prihatin dengan keadaannya sekarang.

Tapi itu kisah hidup, saya yakin ada yang lebh parah dari dia, dan perlu waktu untuk sahabat saya itu menyadari, kalau bukan dia satu2nya orang di Bali, di dunia, yang punya masalah berat sepert itu.

But, still, I'll miss 'im.


Bro,
Take care,
Be a good boy,
Be patient,
Forgive,
Apologize,
Pray,
Please, dont push yourself to hard.
I'm still your best friend.

Whenever u miss me,


Read more...

FRUSTASI ingin menulis!

>> Monday, January 18, 2010

Saya kena "writer's block"...

Why?

Saya udah mulai kerja lagi--kerja kantoran, from 8 to 5, jadi sampe rumah, ngaso sebentar, mandi, sembahyang/mebanten (kalo lagi mood gantiin Mbok Nik, iparku yang centil itu, lalu makan malem.
Dan semuanya itu ngabisin waktu yang gak sedikit.
Belum lagi kalo pake ngobrol dulu sama Bokap-Nyokap1&2 mertua (ibu mertua saya ada dua--hebat, kan), Mbok Nik, atau Bli Pung (adek TeiGung paling kecil)


Dan ketika semua itu selesai, dan saya udah duduk manis di depan 'Popo', saya...
bengong-bengong gak jelas, sambil celingak-celinguk, goyang kiri-kanan, entah apa maksudnya.
Dan lama-lama...


Ngorok! Karena terserang kantuk ganas. 
Benar-benar memalukan...



Padahal saya pengen banget nulis... Pengen banget! Sampe stress!
Dua Dunia tinggal dikit lagi, dan saya cuma bisa melototin baris demi baris kalimat dengan terkantuk-kantuk, tanpa satu pun ide 'kata-kata' yang muncul untuk ngelanjutin cerita setelahnya.

It's frustrating! Irritating! Dan menyebalkan!

Read more...

Dimuat lagi...

>> Tuesday, January 12, 2010

1st chapternya The Devil's Eyes dimuat di KandanGagas...
Senangnya...

Setelah sekian lama saya gak produksi, atau bisa dibilang kena "writer's Block" akibat kelamaan ditinggal si Popo (laptop) saya, finally saya ngeberaniin diri nulis lagi.
Dan itulah hasilnya...

Seperti biasa, reaksi saya.... NORAK! Senyam-senyum gak jelas... dan ber'ah-uh' sendiri...

Btw, untuk sahabat2 yang mampir ke my humble blog ini, tolong baca juga yah...
Sekalian kasih rating and comment, biar saya lebih semangat nih...




Read more...

I've got to hunt this!

>> Monday, January 11, 2010

This is all new most wanted movies that I've gotta have this year, whatever the circumstances is.
















THat's all for today...




Read more...

'Award' Forward


Saya baru aja pulang kantor--mandi, mam, sembahyang, mijetin ibu mertua, duelel, dan sekarang udah nongkrong di depan Popo, dan nyempetin diri untuk nerusin "D' Award" ke 10 cyber pal-ku, yaitu:
1. Adek saya
2. Penulis basi
3. Yessi
4. Owly
5. Nadya
6. Tammi
7. Ra-kun
8. Riri
9. Fynna
10. Sukra

Oke, deh... itu aja.  Selebihnya, diterusin nanti. Banyak banget yang pengen saya tulis di blog, hiks!


Read more...

First Award!

>> Saturday, January 9, 2010


Norak emang, tapi saya senang sekali!!!!!
Dapet award pertama dari Syifa--thanks ya, Sis!
Abis ini mudah2an banyak award lagi berjatuhan dari para blogger mode on (hehehe)
Nanti saya juga pengen bikin award lucu ah, dan mo tak bagi2in ke temen.

Wish me luck!!!

Sekali lagi, thank u, Syifa...

Read more...

What the...



Hahahaha... sumpah saya gak tau, apa maksud pic di atas sama seperti yang ada di pikiran saya.
Tapi jelas orang yang bikin... rada gak ada kerjaan...

It's funny, though!

Read more...

BALI hujan...

Akhirnya...
Setelah taun lalu gak ada titik-titik air dari langit mampir ke bumi, hari ini, Bali ujan pagi-sore....
Hawa jadi dingin-dingin menghanyutkan, bikin ngantuk. Rasanya seger banget ditiup angin yang kerasa ramah banget niup-niup badan saat panas menyengat.



Buat orang-orang di Bali, salah satunya saya, ujan adalah peristiwa maha langka yang mungkin cuma kejadian saat para pawang ujan lagi gak ada kerjaan.

Kenapa begitu?
Ya, mungkin taun ini tugas 'terang-menerang' para pawang itu ditiadakan dulu, karena bisa aja event2 hingar-bingat yang non-stop selama taun 2009, mulai mereda. Rehat dulu, sampai pertengahan tahun 2010.

Jujur aja, saya seneng hari ini... karena hujan turun tanpa ragu sedikit pun.
Biasanya sih, emang rada plin-plan... turun dikit-dikit, eh tahu2 ilang--gak niat banget, kan? Bikin dongkol orang yang ngarepin...

Read more...

ganti template...nggak... ganti template...enggak

>> Thursday, January 7, 2010


Pengen ganti template tapi sayang, terutama banyak yang bilang "Jangan!" karena udah bagus (menurut yang bilang).
But, dasar 'saya', bosen melulu bawaannya...
Saya merasa blog template saya agak kurang 'dewasa' gituh--secara saya udah nikah gituh.

Jadi, bagaimana teman2, kakak2, adek2, ato para blogwalker yang mungkin baru pertama mampir ke blog saya, dan kejatuhan pertanyaan 'apakah saya mesti ganti template?', please, help me...

Sungguh2 membingungkan ternyata...

Read more...

pria2 yang pengen banget saya cium:part II



sambung lagi, nih, tentang pria2 yang pengen saya cium (huiks!)

Yang selanjutnya adalah...

The one and only,

Hugh Jackman

Yang bertanya-tanya, "siapa sih 'bapak' ini?", bener2 kelewatan deh.
Tampangnya udah melekat banget di salah satu karakter X-Men: Wolverine. Dia juga main di "The Prestige", dan yang paling dahsyat ya, di filmnya bareng Nicole Kidman, Australia, yang romantis abis itu.
Saya sendiri mulai suka sama dia, sejak dia main di X-Men. Abis macho batnget!
Kenapa saya kepengen banget nyium dia, abis Hugh lembut sekali, sih. Penyayang gituh!

Next, ada...
the bollywood star

Shahid Kapoor

Cowok ini manisssssss banget--look at his lips, seksi juga, kan?, selain itu dia ganteng banget!
Kenapa saya suka ma dia, ya, karena dia ngingetin saya sama Shah Rukh Khan. Tapi jelas, Shah Rukh Khan waktu muda, gak ada cakep2nya kaya gini, melainkan (sori), ugly.
Tapi Shahid emang cakep, kok, baik, ramah, sopan (dan rajin menabung, hehehe).
Aktingnya cukup oke, buktinya bisa disandingin ma Rani Mukerji.

Lalu...
cowok kebanggaan kita semua

Nicholas Saputra
No comment deh ma cowok satu ini. Cakep, cool, pinter, jago akting, fotogenic, gak ngebosenin. Dia segalanya yang diinginkan tiap cewek, deh. Wajahnya tenang tapi menghanyutkan. Senyumnya, aduh, membuai euy... Gak salah kan, kalo saya ngebet pengen nyium dia. Hihi.

Dan ini favorit saya, 
Si  bengal

Mark Wahlberg

Tampangnya emang gak cakep2 amat, tapi dia luar biasa menarik. Bad boy image-nya keluar banget, bikin Mark selalu kelihatan misterius dan dewasa banget di setiap penampilannya.
Yang bilang dia mirip Matt Damon, gak salah, karena mukanya emang mirip abis sama Matt, tapi jelas cakepan Mark kemana-mana. Idungnya kan gak aneh kaya si Matt.
Mark selalu main di film2 action atau drama serius kaya, Max Payne, The Departed, Happening.
Saya suka dia sejak saya tahu dia adeknya Donnie Wahlberg, membernya New Kids On The Block.



Read more...

Hancur, retak, pecah, luruh, berantakan

Pengen marah, tapi gak bisa.
Pengen nangis, tapi malu didenger orang.
Pengen ngamuk, tapi khawatir disangka gila
Pengen berantem, tapi cemas yang denger bakal ngegosipin
Pengen mukul, tapi takut dituduh ngelakuin tindak kekerasan
Pengen ngomel, tapi males, karena yang diomelin juga gak ngerti kenapa diomelin alias: bebal
Pengen ngomong serius, tapi percuma, karena gak bakal didengerin
Pengen ngabur sementara, tapi khawatir orang-orang bakal ngomongin
Pengen curhat, tapi takut yang dicurhatin bakal nerusin ke orang lain
Pengen cemberut, tapi mustahil, banyak orang di sekeliling

Jadi mesti gimana, dong?
Gak bisa meluapkan emosi sama sekali... Nyiksa banget!
Hanya bisa memasrahkan hati hancur, retak, pecah, luruh, berantakan.


Read more...

pria2 yang pengen banget saya cium:part I

>> Wednesday, January 6, 2010


Chris Pine
Dia udah bercokol di nomor teratas sejak saya nonton filmnya "Just My Luck" sama Lindsay Lohan--dia cute abis di situ. Dan yang paling terakhir ya, Startrek, dan he looks so yummy there.
Yang pasti si Mr. Pine ini, tampangnya sama sekali gak ngebosenin, dan saya yakin he's a good kisser, too. Abis bibirnya sekkseehh banget!
Aduh, maap ya, TeiGung, ini hanya impian belaka (hehehe).


Ewan McGregor

Pengen banget nyium dia, abis nonton film Moulin Rouge... Cuttie pie banget soalnya. Dia juga pencinta keluarga banget... dan pelindung. Seneng deh, kalo bisa nyium dia walopun cuma dalem mimpi.


Robbert Pattinson

Tentu aja saya pengen nyium dia... Gimana nggak... mukanya emang ngundang cewek mana pun pengen nyium (iri sama Kristen Steward). Dan cara ciumannya waktu di 'Twilight' breath-taking euyy!
Jadi berkhayal, kalau saya yang dia cium, bukannya si Bella.
Dasar, yah... kalo kebanyakan mimpi di siang bolong.







Read more...

'Nulis' Progress Update

>> Tuesday, January 5, 2010

KARENA kepala terlalu 'crowded' ma urusan nikah, saya jadi lupa sama sekali untuk lanjutin nulis naskah novel, terutama "Dua Dunia", naskah novel kedua saya--setelah "a wedding's song for christian (yang ditolak  total ma Gramedia)--yang dikit lagi rampung.

Jujur aja, saya sangat kangen sama 'Dua Dunia', kangen sama Nalini, Abimanyu, dan para Tanu, Death juga.
Pengen cepet-cepet selesein, dan kirim ke Gagas Media.
Dan kalau Dua Dunia udah selesai... saya langsung mo lanjutin ke sekuelnya yang kedua: Dua Dunia: Penyatuan, Tu Muskura, atau mungkin... The Devil Eyes.

Yang pasti saya semangat lagi nih, untuk nulis!




Btw, beberapa hari lalu, sehari setelah taun baru, Kambing Jantan: The Movie, diputer di TV.
Di film itu ditampilin kantornya Gagas Media... Itulah yang bikin saya keingetan punya PR nulis.
Selain itu saya juga inget betapa menyenangkannya saat menulis; menggambarkan hal2 romantis, tempat2 indah, bentuk indah dan menakjubkan, warna2 terang memukau mata cuma dengan rangkaian kata.

Bagi saya nulis itu 'my moment'
Moment saya untuk mencapai mimpi yang gak bakal terwujud di kehidupan nyata; pacaran sama cowok guanteng--seganteng Edward Cullen, punya muka cantik memukau,  punya kekuatan super, hectic, jadi cewek gila, nekat, bengal atau murahan (hehehe)

Cuma dengan nulis saya bisa mengeksplor banyak karakter yang sebagian gak mungkin saya anut, dan it's fun!

Ya, karena itu juga saya keranjingan ngeBlog--yang sebagian orang bilang 'agak gak punya kerjaan'--dan saya cinta blog saya (meskipun sekarang udah gatel lagi pengen ganti template; hehehe) terutama banner-nya--hasil kesuksesan ngutak-atik photoshop selama berjam2.

Read more...

2010 promises: Part II

>> Sunday, January 3, 2010

5. Jangan nge'beda2in orang, intinya:

 mo miskin, kaya, cakep, jelek, keren, idiot, norak, aneh, pinter, tiap orang harus dapet perlakuan sama dari kita. Karena ada satu waktu kita akan butuh bantuan orang2 tersebut.

6. MAKAN SAYUR!!!


Sama sekali tidak bisa ditawar lagi, Lita! Umur saya udah 28 taun, dan jam berdetak makin keras menuju ujung umur. Penyakit aneh akan singgah, dan saya bener2 butuh serat banyak sebagai suplemen pelengkap

7. Banyaksenyum dan enjoying life

biar gak stress...






Read more...

2010 promises: Part I


untuk keluarga, temen-temen, dan para blog-walker yang kebetulan ngunjungin blog saya.
Semoga di tahun baru yang agak gak baru ini (buat saya) kita semua bisa lebih dari tahun kemarin; lebih hepi, lebih sehat, lebih makmur, lebih rejeki... asal gak lebih berat badan ato lebih kurus aja.

Di tahuun baru ini--karena saya udah nikah (ehm)--saya punya janji2 buat diri sendiri yang kudu saya lakuin demi kebaikan hidup saya, yaitu:

1. Stop being a

I'm not a girl anymore, but yet a woman... so what then?

2. Harus bisa maksa TeiGung bangun pagi
Susah banget bangunnya, meskipun udah diumpanin kopi (persis kaya Mbah Surip--pencinta kopi), tetep aja betah ngorok sampe siang... Menyebalkan!

3. Naik motor sendiri

Di Bali semua orang mobile dengan motor bebek, bebek dan bebek. Matic-matic-matic.
Dan sepertinya cuma segelintir orang kaya saya yang masih heboh dianter jemput. Maluuuu kan!



4. Usaha cari rejeki banyak2 dengan:
Nanem Pohon Duit

Cara cepat dan jitu dapetin uang... tapi darimana dapetin pohonnya?




Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP