Happy New Year 2011

>> Friday, December 31, 2010

Ini Greeting Card buatan saya sendiri...
Memang simple dan kurang hiasan, but... I made it myself : )

So this is for you, guys.
Thank u for visiting my blog and read my thoughts .
Love You...

Read more...

Satu Tahun Umur Kami

>> Tuesday, December 28, 2010


Pernikahan,
Bulan-bulan pertama yang menyesakkan dan penuh pertengkaran
Penuh dengan pikiran, "Aku tidak ingin bersamamu lagi!"
Penuh dengan tangis dan air mata...
Kata 'pergi', 'pisah' dan lain-lain selalu terlontar
Tapi nyatanya sekarang... satu tahun umur kami
Dan cintaku tak sedikit pun pudar padanya

........

Happy Anniversary, Bibie
I love you


Read more...

Garudaku--Aku Tetap Bangga Padamu

>> Monday, December 27, 2010

We'll pay back on Dec 29th, guys!

Meskipun Timnas Indonesia kalah 3-0 dari Malaysia di pertandingan final league I, Minggu malam, 26 Desember kemarin, saya tetap appreciate sama Timnas kita, kok.
Emang sih, waktu Safee, Kapten Kesebelasan Malaysia sukses ngeGol-in bola ke gawang tim Indonesia, saya sempet sedih dan bermuram durja, plus pindahin chanel ke stasiun televisi lain saking sebelnya--males nonton. Apalagi begitu tahu kalau ternyata timnas Indonesia bener2 dibantai sama Timnas malaysia dengan 3 - 0, waduhh... saya udah muter mata ke atas dan mikir, "Kalah lagi... kalah lagi. Ternyata tim Indonesia jago di kandang aja."
Tapi... paginya begitu saya pikir-pikir lagi... "Ngapain malah underestimate timnas sendiri?"
Yah, walaupun emang beringas di kandang aja, tapi... mereka--Gonzales, Irfan dan temen2nya yang lain--untuk pertama kalinya bisa ngangkat nama Timnas Indonesia yang selama ini di'ece'in banget ma saudara setanah airnya sendiri--penduduk Indonesia.Mereka bikin 'Gelora Bung Karno' akhirnya penuh sesak sama penonton yang suport satu nama: Indonesia, ngibarin satu bendera: Bendera merah putih, dengan kaus bersimbol burung Garuda Pancasila di dada kiri. Mereka bener2 datang untuk mensuport Indonesia, bukan lagi mengatasnamakan Arema, Jakmania, Persib, de el el.
So... they're great... They're just lost their confidence.

Pastinya banyak orang yang sekali lagi mencemooh timnas, tapi pastinya ada juga orang-orang yang seperti saya, menghargai kerja keras mereka karena untuk beberapa hari sejak piala AFF dimulai, TimNas bisa bikin orang-orang setanah air memfokuskan mata pada permainan mereka yang membuahkan kemenangan beruntun dari timnas negara2 Asia lainnya, salah satunya Filipina yang cukup ditakutin karena pernah berhasil sampe ke piala Eropa, sampai akhirnya Timnas Indonesia bisa tembus ke final, untuk ngelawan TimNas salah satu negara yang selama ini udah bikin panas hati orang Indonesia, Malaysia. Yang kendati kalah... saya tetap menghargai dan bangga pada mereka.

Read more...

Hei, Mommmm. It's for you:

>> Wednesday, December 22, 2010

 
 "The moment a child is born, the mother is also born. 
She never existed before.
The woman existed, but the mother, never. 
A mother is something absolutely new"
 ~Rajneesh~

  
SELAMAT HARI IBU
 
 




Read more...

Be Patient, Beb

>> Thursday, December 16, 2010

Orang itu mencoba melukai hati saya.
Tampaknya dia tidak suka melihat saya tertawa lepas.
Kata-kata yang menyembur dari mulutnya seperti roket yang panik.
Panik untuk membuat saya merasa kecil di hadapannya.
Dia mengatakan kalimat-kalimat penuh singgungan, untuk memicu tangis saya.
Dan ya... dia hampir berhasil, kalau saja, kesabaran saya hanya sejengkal.
Memang sakit kalau tidak bisa diluapkan. Kalau tidak diucapkan. Kalau tidak tersampaikan.
Tapi... biarlah... Anggap saja melatih kesabaran saya yang selama ini memang hanya sejengkal

Lita

Read more...

>> Monday, December 6, 2010

Saya cuma mau ucapin...

Selamat Hari Raya 
Galungan dan Kuningan 

sama semua teman blogger yang merayakan.
Karena gak akan sempat untuk saya mengucapkan besok atau dua hari lagi, berhubung besok sudah Penampahan Galungan, dan besoknya Galungan (8 Des' 2010), dan saya akan bergumul dengan lautan janur/busung yang mesti dijait/dibentuk sesuai dengan fungsinya. Ditambah lagi dengan kegiatan masak-memasak yang jadi kegiatan rutin tiap hari raya ini. Dijamin, saya gak akan sempat untuk menyapa siapa pun via dunia maya.

Thanks,

Lita

 

 

Read more...

Selamat Jalan. Untuk selamanya.

>> Wednesday, December 1, 2010


Yes. This is goodbye.
For good.
We'll never meet again.

Tenang dulu, everybody. Quote di atas bukan saya tujuin buat orang. Melainkan gigi saya.
Gigi bungsu saya, yang sejak 2 minggu lalu udah jadi bahan tulisan blog saya, yang akhirnya hari Minggu tanggal 28 Nopember kemarin, resmi keluar dari keanggotaan gigi-gerigi yang menghuni mulut saya.

Akhirnya... Dan rasanya lueega banget. Meskipun prosesi pencabutannya rada scary.
Bener... nakutin banget. Walau pun dokter bedahnya berusaha banget bikin saya santai, dengan bersenandung entah apa bareng2 ma susternya, pas dia masukin pisau bedah, bor, tang, suntikan de el el, ke dalam mulut saya.
Dan yang pasti selama 'acara', saya gak buka mata sama sekali. Kecuali mulut yang kebuka (gak tau sampai pembukaan berapa), semua indera yang ada di badan saya mati2an saya non-aktifin.
Baru setelah operasinya selesai, dan gak ada lagi benda-benda berat atau tajam yang mau masuk lagi, saya buka mata.
Gak perlu deh saya ceritain bagaimana detil dokternya ngangkat si gigi itu. Yang pasti... mulai dari jarum suntik nusuk beberapa titik bagian dalam mulut untuk proses anestesi, sejak itulah horor dimulai.
Meskipun emang gak kerasa apa-apa, tapi tetep aja bikin ngeri.
Saat itu bagi saya, si Dokter bedah mulut adalah Psikopat berdarah dingin (bayangin ngebelah gusi orang pake nyanyi2), dan si suster adalah prodigy-nya. Sama berdarah dinginnya (karena ikut nyanyi2).
Aduh... serem ah.

But, yang hebat... saya bertahan (Mau gimana lagi... mundur gak bisa. Maju...? Bisa2 rahang bolong kena bor). Saya pasrahkan nyawa saya di tangan si Dokter. Alhasil... si gigi, kecabut juga. Dan saya baik2 aja. Sehat wal'afiat.

Sekarang saya udah oke. Gak meringis2 sakit lagi. Meskipun pipi kanan tembem dikit sebagai efek operasi brutal kemarin, tapi saya hepi. Udah bisa makan lagi. Sepuasnya. Setelah selama dua minggu cuma kena asupan bubur--baik di rumah mau pun di kantor. Bikin perut kreok2 pagi, siang, sore, dan berat badan nyusut drastis.

I'm in a full shape right now!
And thank to God. To my Bibie. Dokter Tri Wibowo dan Suster Indira.



Lita

Read more...

Worst Days of My Life

>> Thursday, November 25, 2010

Minggu2 selama saya sakit gigi (masih bersambung sakit giginya, nih), adalah minggu yang terdiri dari hari2 paling suffering seumur hidup saya. Pokoknya sebelum gigi bungsu yang bermasalah itu diangkat, saya bakal merasa terus menderita. Stress berkepanjangan, yang pastinya... berpengaruh besar sama semua rutinitas saya, yang saya sadari udah kacau banget selama hampir 2 minggu ini.

Pertama, karena sakitnya luar biasa... saya gak konsen sama apa pun selama di kantor. Saya pindah jadi zombie kantoran. Mengerang-ngerang tanpa ekspresi.

Kedua, saya kelaparan. Makan bubur aja abisnya, karena untuk makan nasi sepertinya sulit banget (takut masuk ke gigi yang bolong), plus untuk nyemil yang keras2 atau manis2 pastinya akan 'nyetrum' si gigi nyebelin ini. Kalau saya nekat... saya harus siap terima resiko nyut... nyut... selama beberapa detik, menit, jam, waktu, atau harian.

Ketiga, karena gak bisa makan apa pun selain bubur plus telur, saya jadi bisulan. Bisulan karena telurnya, bukan buburnya. Dan yang gak enaknya nih bisul, nongolnya gak di tempat yang gak terlihat, melainkan langsung nongkrong di muka... Kebayang, kan, malangnya saya. Lumayan besar lagi. Akibat stress, mikirin gigi plus bisul, jerawat pun bermunculan satu per satu... Wah, kacau bilau! Jadi luar biasa gak pede!

Keempat, emosi saya jadi turun naik. Pengennya marah terus.
Suami saya pun jadi objek penderita. Saya jadi merasa orang paling nyebelin sedunia.
Apalagi menjelang malam, nyeri giginya bereaksi, wah--gudbye deh, manners... I suddenly hate all people in my house!

Minggu depan, nih gigi udah harus absen dari anggota gigi saya yang lain.
Sudah harus minggat, sebelum terjadi hal2 yang tak diinginkan!


"Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati ini... biar tak mengapa" - Meggie Z.
Quote paling tidak bersahabat kalo kita dengernya pas lagi meringis-ringis karena sakit gigi.

-Lita-

Read more...

Toothache

>> Thursday, November 18, 2010

Saya udah 3 hari gak masuk kerja (sebenernya libur idul adha kemarin gak diitung, tapi berubung saya biasanya masuk setiap tanggal merah...), karena sakit gigi.

Sakit gigi?



Iya. Sakit gigi.
Bukan sakit gigi karena gigi graham yang bolong aja, tapi sakit gigi karena gigi graham (gigi bungsu) yang bolongnya udah kaya kawah gunung merapi sampe mencapai syaraf leher, plus tuh gigi bungsu tumbuhnya horisontal pula dan... ketanem di bawah tulang.
Parah? Bukan parah lagi. MENGERIKAN. Karena... waktu sebelum saya akhirnya bela2in ke dokter Gigi (saya paling takut ke dokter gigi), kondisi saya udah kaya zombie dipasung. Berbaring telentang di atas kasur, tapi mata gak bisa merem, dan mengerang-ngerang sampe pagi, sampe akhirnya malem lagi.


Dokter bilang saya kena migrain akut--pantes. Pengennya bunuh diri aja, kalo kepala lagi nyut2 dan nyeri. Bayangan2 yang gak ngenakin muncul dan jadi kepingin ngamuk.
M-e-n-y-e-d-i-h-k-a-n!

Kemaren, tanggal 17 Nopember yang bertepatan sama hari raya Idul adha, seharusnya jadwal saya operasi--pengangkatan gigi bermasalah itu. Waktu itu saya, maupun dokter yang dipercaya ngambil tuh gigi: Drg. Kamajaya namanya, belum tahu posisi pastinya si gigi nyebelin itu.
Saya sendiri dateng ke sana dengan tujuan untuk minta obat lagi--obat udah hampir abis, dan kalo bener2 abis saya bisa kaya zombie lagi, karena saya juga berpikir, 'kayanya nih gigi gak bakal diangkat hari itu, berubung gusi saya masih bengkak dan berdenyut2, meskipun gak separah 2 hari sebelumnya.
Dan ternyata bener, Dr. Kama bilang dia belum berani ambil kalo kondisinya masih bengkak, tapi dia bilang (dengan lembut dan manis banget), "Kita rongent aja dulu, ya? Biar tahu posisi giginya."

Dan akhirnya di rongent deh tuh gigi. Bahkan waktu di rongent pun saya panas dingin. padahal gak kerasa apa sama sekali.
Dan untuk lebih jelasnya, saya kutip pembicaraan saya dengan Dr Kama and asistennya.

Dr. Kama: Tunggu dulu ya, liat hasil rontgentnya
Saya: Diam seribu bahasa (Terlalu tegang)
Dr. Kama: Posisi giginya itu miring. Tapi gak tau seberapa miring, dan masih ketutup bengkak. Saya gak berani angkat sekarang.
Asisten: Wah, Dok, horisontal nih.
Saya: (berpikir, bingung horisontal tuh tidur ato berdiri)
Dr. Kama: (Nyamperin si asisten dan langsung bawa hasil rongent ke depan saya) "Wah, Lit, kalo posisinya begini, saya bener2 gak berani ambil. Harus dokter bedah mulut yang operasi.
Saya: (Langsung lemes) Emang kenapa, Dok?
Dr. Kama: Nih, liat. Gigi yang bolong ini, posisinya miring 90 derajat. Akarnya tertanam di bawah tulang, dan menyentuh syaraf.
Saya: (aduh mendingan tadi gak tanya deh)
Dr. Kama: Kalo miring dikit, saya masih berani ngambil, tapi kalo begini... saya harus rujuk ke dokter bedah mulut. Sekarang saya kasi obat yang lebih paten untuk ngilangin bengkak, dan hari Minggu pagi, kamu operasi.
Saya: (Suara saya sepertinya bener2 ilang, saking takutnya)

Yang pasti... pada akhirnya saya cuma mau bilang, bagi temen2 yang punya masalah gigi--bolong ato apa pun, sering2 aja deh check up ke dokter gigi. Biar gak kaya saya ujung2nya.
Sumpah guys... tersiksa luar biasa tersiksa kalo lagi nyut2. Dan kalo udah sampe syaraf... turut berduka cita deh. Lebih baik cepat ditindak daripada ditunda-tunda.
Bisa nyebabin stroke loh.
Terutama untuk Anda2 yang punya posisi gigi abnormal kaya kasus gigi bungsu saya ini.
Careful!



Love,
Lita

Read more...

Catatan Mingguan: Accepting

>> Saturday, November 6, 2010

Another Saturday. Another week will end. 
Dan satu minggu ini tidak banyak yang terjadi, selain saya berusaha lebih sabar... sabar dan sabar menghadapi semua yang harus terjadi dan harus saya alami.
Di keluarga...
Yah... bisa dibilang saya lebih bisa menerima (meskipun masih sangat berusaha untuk menerima 100%) kekurangan suami saya, dan memperbaiki diri semampu saya, tanpa terlalu menekan diri seperti sebelum2nya. Berusaha rileks, dan tak banyak bicara, lebih tepatnya. Dan saya merasa lebih enjoy.



Di kantor...
Saat inilah saya benar2 belajar, untuk menahan emosi, belajar bersabar, berbesar hati dan menekan harga diri, demi kebaikan saya sendiri dan semua orang. Dan semakin hari... saya semakin bangga pada diri sendiri. Betapa saya mampu untuk menahan diri untuk tidak berkomentar negatif, tidak membenci dan tidak mendendam pada orang lain yang kadang menyakiti batin, memerahkan telinga dengan kata-kata dan menjatuhkan harga diri saya. Andaikan ada perasaan tak puas, tak suka, dan lain2, semuanya itu saya simpan di benak saya, dan sebisa mungkin tak saya keluarkan melalui bibir. Itu lebih baik. Dan saya merasa lebih dewasa secara sikap untuk menyikapi hal2 yang sepele yang banyak terjadi dulu, sekarang, maupun nanti.
Saya merasa... kuat. Dan sabar.



Di hadapan Tuhan...
Meskipun Tuhan tak pernah berkata langsung pada saya... saya yakin Tuhan sangat cinta pada saya.
Dia memberikan kekuatan yang aneh pada saya untuk melewati masa-masa sulit, dia memberi saya banyak kesibukan yang melupakan kesedihan saya. Dia mengirimkan orang2 yang meringankan gundah di hati; orang2 yang tanpa saya minta, datang dan mengatakan bahwa mereka ingin saya kuat, orang2 yang memberikan tepukan di pundak untuk membesarkan hati saya, orang2 yang memberikan senyum manis untuk mencerahkan mendung di benak saya, dan orang-orang yang berkata kalau mereka menyayangi saya.
Saya bersyukur karena Tuhan telah menciptakan saya sebagai manusia, tanpa kurang suatu apa pun, dan lebih banyak bersyukur atas cinta yang diberikan keluarga, teman dan orang2 pada saya. Semua itu menguatkan saya. Dan saya bersyukur Tuhan memberikan masalah2 dan kesalahan yang yang saya perbuat, untuk bahan pembelajaran bagi saya untuk menjadi orang yang lebih baik.



My Quote this week:
Saya tidak sempurna.
Karena saya manusia, bukan malaikat, bukan juga orang super
Saya hidup dengan cara yang sederhana; eat, pray, love

Read more...

Quick writing: Monday

>> Monday, November 1, 2010


Kayanya itu udah jadi slogan umum para pekerja kantoran deh...
Abis napping total hari Minggu (itung2 ngeCharge batere badan), berkutat dengan pekerjaan rumah--nyuci, ngepel, setrika, de el el yang sama nyebelinnya, pas ketemu Monday, besoknya, bukannya tambah semangat, malah... Um, actually, semangat saya masih stabil, tapi... otak... bisa dibilang saya mengalami temporary brain damage, deh. Yaitu suatu kondisi dimana otak bekerja dengan sangat lemot, kaya yutub yang lagi eror koneksinya. Dan akhirnya semua jadi slow motion. Hiks!
Saya kerja sih kerja, but... luar biasa mualesss. Kalo gak dipikir kerjaan numpuk, numpuk n numpuk, rasanya pengen bengong aja. Tapi... kali dikasi bengong, sepertinya otak makin tumpul dan malesnya menjadi-jadi.

Oh, God!
But it's okay. Karena saya udah menyelesaikan pekerjaan saya semampu dan setotal yang saya bisa lakukan untuk hari ini. Another level of game has passed. Time to break now.

Note1:
Saya serahkan semua permasalahan yang tak bisa saya selesaikan pada Tuhan, dan biarkan dia yang memutuskan. Saya percaya Tuhan selalu ada untuk saya. 


Lanjut,
Saya baru aja nonton:

Aduh... romantis dan mengharukan banget.
Yang main Amanda Seyfried dan Christopher Egan. 
Bukannya saya gak mau ceritain kisahnya, tapi... lebih baik, siapa pun yang membaca postingan saya ini dan tertarik sama filmnya, langsung nonton aja. Gak rugi deh.
Settingnya aja di Italia. Jadi, banyak banget pemandangan spektakuler plus kebun anggurnya yang luas itu. 
Dan kalo ada yang gak tahu siapa Amanda Seyfried ini dia fotonya:

 dan Ini Christopher Egan & Amanda:
 cute, eh?

Dan saya suka banget foto ini (gak ada di film soalnya):



Read more...

Ingkar semu sang penyetia

>> Saturday, October 30, 2010

aku memang pernah ingkar...
hatiku pernah berlubang, memberikan celah perasaan lain untuk mengganggu
pikiranku pernah penuh oleh sesuatu yang tak semestinya
imajinasiku pernah melayang jauh karenanya
namun... cuma itu. That's it!
hanya pikiran. hanya bayangan. hanya keinginan semu. Tak pernah menjadi nyata.
dan aku bersyukur.

kendati begitu, aku tidak menyesal pernah memiliki rasa itu
karena rasa itu begitu indah. begitu menyenangkan. membuatku bahagia.
membuatku lebih semangat dan ingin menjadi pribadi yang lebih baik.
sampai saat ini... perasaan itu tetap ada. sebagai penerang hari gelap
sebagai pengingat kalau rasa itu pernah hadir
dan aku berterimakasih

sekarang aku hanya ingin satu rasa, yang kupunya untuk pribadi yang seharusnya
ingin berbagi rasa dan saling mengisi
karena aku tahu jantungku ini masih berdetak untuknya, dan dia sebaliknya
karena aku tahu cintaku begitu besar, dan dia sebaliknya
karena aku tahu aku hanya untuknya, dan dia sebaliknya.
dan aku ikhlas menjalani bersamanya

Read more...

>> Friday, October 29, 2010

Satu yang pasti, yang saya dapat katakan...Saya mencintai suami saya... meskipun pertengkaran terus terjadi.
Saya mencintai suami saya, meskipun dia menyebalkan
Saya mencintai suami saya, meskipun dia tidak romantis
Saya mencintai suami saya, walaupun dia cuek
Karena dibalik semua kekurangannya, saya sadar bahwa cintanya begitu besar pada saya.
Dan di semua kelebihannya, dia menutupi semua kekurangan saya...

Apa pun dia... saya menyayangi dan mencintainya.

Read more...

update'an yang sangat maksa

>> Friday, October 22, 2010

Kenapa maksa? Jujur, karena saya gak tahu apa yang harus saya tulis untuk ngeramein blog saya lagi.
Karena udah sejak bulan lalu imajinasi ato otak ngarang saya stuck, karena salah satu bagian diri saya--si 'pemimpi', lagi terdampar di suatu daerah terpencil di alam bawah sadar saya.
Saya bahkan gak lagi bisa nulis cerita dengan smooth; mengalirkan ide seperti dulu dari benak saya. Beku rasanya. Setiap ngeliat monitor, mata saya seolah kedesak ke dalam. Dan yang saya liat cuma kunang-kunang samar, terbang wara-wiri gak tentu arah.

Sebenarnya saya kenapa?

Well, sepertinya saya udah memprioritaskan pekerjaaan yang sudah 4 bulan ini saya geluti. Saya juga udah gak bisa lagi begadang ampe pagi-pagi untuk nulis sesuatu yang hanya saya mengerti.
Saya lebih senang menulis di pikiran saya, merangkai cerita, dan menyaksikannya dengan mata batin.
Lebih mudah menurut saya, daripada ngetik kata, untuk ngedeskripsiinnya di lappy.
Dan saya biarkan, semua adegan2 di pikiran itu terlupa seiring waktu berlalu. Sayang, sebenernya. Tapi saya malas. Malas dan Malas. Capek juga. Capek bekerja, capek berpikir. Berpikir masalah kerjaan, berpikir masalah diri saya, suami dan keluarga.

Intinya: saya bener2 stuck!

Read more...

Coretan Romantis 2

>> Monday, October 11, 2010


Tangannya meraih tanganku tanpa ragu. 
Aku tidak tahu apa itu cara untuknya mengatakan kalau dia juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Oh, sungguh aku tidak tahu. 
Dan aku tidak mau terlalu melambungkan harapan.
Kubiarkan dia menyentuh tanganku dan kunikmati indahnya bunga-bunga yang bertaburan di sekelilingku, tanpa menarik kesimpulan apa pun mengenai tindakannya itu.
Yang pasti aku bahagia. Meskipun semu, tak apa. Aku tetap bahagia.
Hari2ku begitu menjenuhkan, dan dia selalu menitikkan warna-warna cerah yang menyegarkan hariku.

Asal kau tahu... 
aku tidak pernah berencana untuk jatuh cinta padamu


Read more...

The Devil's Eyes: 13th Chapter

>> Friday, October 1, 2010


13



KELAS Bahasa Indonesia berakhir lebih cepat dari yang seharusnya, menyusul penemuan jenazah Sita yang akhirnya ditemukan siang itu. Kondisinya sangat mengenaskan; tidak dapat lagi dikenali. Empat bulan terkubur bersama sampah-sampah membuat badannya jauh lebih busuk dari mayat-mayat yang telah busuk pada umumnya.
Tadi, tak lama setelah Sita mendatangiku di kelas, tiba-tiba terdengar suara sirine—campuran dari sirine Ambulans dan juga mobil polisi—bersahut-sahutan. Dekat sekali, seolah saja menuju ke areal kampus. Dan ternyata memang benar. Mobil polisi dan Ambulans itu memang menuju ke kampusku, yang didatangkan oleh mama Sita, yang ikut datang ke kampus bersama suaminya, membuat seluruh kampus heboh karena teriakan-teriakan paniknya mengenai telepon yang mengabarkan keberadaan tubuh anaknya di areal pembuangan sampah kampus Sastra. Setidaknya itu yang kudengar dari kasak-kusuk mahasiswa-mahasiswi lain yang langsung heboh dengan peristiwa tersebut.
Tak ayal, halaman belakang kampus Sastra mendadak dipenuhi orang yang penasaran ingin menyaksikan prosesi penggalian untuk menemukan mayat Sita. Dan semuanya itu berlangsung diiringi tangis cemas mama Sita yang ditenangkan oleh suaminya dengan merangkulnya erat.
Dan ketika akhirnya para petugas penggali menemukan tubuh Sita setelah dua jam penggalian—tubuh Sita dikubur di lapisan tanah paling bawah yang tidak memungkinkan tubuhnya ditemukan saat sampah di atasnya dibakar atau dibawa ke pembuangan akhir (semua terheran-heran bagaimana cara orang yang menguburnya bisa menggali dengan cepat tanpa kelihatan sama sekali)—dan mengangkatnya ke permukaan, mama Sita langsung menghambur ke depan, menyikut perut suaminya yang berusaha mencegahnya sehingga terhuyung ke belakang, menghampiri tubuh Sita, setelah sebelumnya membuat dua petugas polisi yang berusaha memeganginya terjerembab, dan memeluk jasad Sita yang sudah membusuk sambil menangis histeris.
Seisi kampus geger setelah penemuan itu.
“Ternyata Sita dikubur di tempat pembuangan sampah…”
“Menjijikan…”
“Itu semua karma. Dia menyebalkan sih semasa hidup… jadi matinya kaya gitu…”
“Siapa yang bunuh, ya?”
“Pasti yang dendam sama dia dan gang-nya itu…”
Sepanjang koridor yang kulalui penuh dengan kasak-kusuk tak mengenakkan mengenai Sita. Baik yang perempuan atau yang laki-laki tampaknya mengaitkan kematian Sita sebagai balasan atas tingkah lakunya yang tak menyenangkan ketika hidup. Aku cuma bisa menaikkan kedua alisku, sambil terus berjalan, sekembalinya dari perpustakaan kampus—aku memilih untuk menyendiri di sana beberapa waktu daripada ikut-ikutan menontoni evakuasi jenazah Sita. Menurutku, tidak patut rasanya mencerca seseorang yang telah mati. Apalagi kalau cara matinya tidak wajar seperti itu.
Sebenarnya belum ada informasi resmi bagaimana pastinya Sita meninggal dari petugas berwenang atau pun pihak kampus, tapi melihat lokasi dimana tubuhnya ditemukan, sudah cukup untuk membuat banyak orang menyimpulkan kalau Sita mati dibunuh orang.
Aku sendiri tidak terlalu ingin tahu, karena dirundung rasa khawatir yang amat sangat, cemas kalau-kalau mama Sita—yang aku yakin seratus persen—telah bicara dengan Polisi atau mungkin pihak kampus mengenai penelepon misterius yang meneleponnya di siang hari bolong dan memberitahukan keberadaan tubuh putrinya, sekarang berniat untuk melacak penelepon misterius tersebut. Oh, aku berharap kalau mama Sita tidak memiliki daya selidik sejauh itu. Karena polisi sudah pasti akan menemukan asal nomor telepon yang terdata di handphone mama Sita, yang adalah nomor dari telepon umum di pelataran parkir kampus di depan. Dan polisi akan menyelidiki siapa orang yang terakhir terlihat memakai telepon tersebut.
Jujur saja, pada saat-saat seperti ini, aku benar-benar merasa benci pada mataku sendiri. Karena kemampuannya melihat yang aneh-aneh jadi membuatku terjebak dalam situasi tak nyaman begini. 
Karena pikiranku bertambah ruwet, aku memutuskan untuk mencuci mukaku saja di toilet wanita yang berada di dekat kantin—toilet yang ada di areal belakang; di tempat pembuangan sampah dimana tubuh Sita ditemukan telah diamankan oleh polisi dan dipasangkan police line. Berbelok ke sebelah kanan, mendorong pintu toilet dan menghambur masuk ke dalam, dan bergegas menghampiri wastafel.
Kosong di dalam toilet (untungnya). Tak ada siapa pun, sehingga aku bisa lebih lama mematut diri di depan cermin wastafel, dengan benak yang amat penuh, memikirkan Sita, yang sejak penampakannya terakhir kali di kelas beberapa jam lalu, tidak lagi muncul untuk menemuiku.
Ah, nanti juga kalau dia mau, dia akan muncul sendiri, aku membatin, berusaha tidak mempedulikan apa pun tentang Sita. Meletakkan tasku di puncak wastafel sebelah yang agak kering, menyalakan kran air, dan menadahkan tanganku di bawahnya, untuk menampung air yang mengucur ke bawah, baru kemudian membasuhkannya ke wajahku.
  Ketika aku sedang membenamkan wajahku ke kedua tanganku yang basah, pintu toilet kedengaran membuka. Disusul oleh suara hak sepatu (lumayan banyak) menghantam lantai keramik, diiringi suara gesekan tas yang disandang, dan bau parfum berbagai aroma. Aku mengenali salah satu aroma parfum orang yang baru saja masuk. Parfum milik Ester.
Aku cepat-cepat menurunkan tanganku, dan memandang ke arah cermin di depanku, dan langsung mengernyit heran, melihat Ester, Dian, Cherry, dan Selly berdiri persis di belakangku. Tampang mereka semua sangat tidak bersahabat.
Oh, apa lagi ini, tanyaku dalam hati, seraya menarik beberapa lembar tisu dari boksnya yang diletakkan sembarangan saja di atas wastafel dan menyeka wajahku yang basah perlahan sambil berbalik. Menghadapi keempat gadis cantik tersebut.
Baru saja aku akan membuka mulut untuk bertanya, namun Ester mendadak maju dan berdiri dekat sekali di depanku dengan mata melotot marah.
Dia pasti masih dendam masalah di kantin tadi, aku menebak-nebak. Berusaha tenang, walaupun jantungku sekarang dag dig dug tidak keruan. Cemas, takut, marah, kesal, apa pun emosi yang ada di dalam diriku sepertinya berputar-putar seperti angin puyuh di dalam badanku. Namun, aku tidak ingin terlihat lemah atau takut di depan Ester, tapi juga tidak punya hasrat untuk melawannya. Aku hanya bisa diam, dan memberanikan diri menatap mata hijau Ester, sambil meremas-remas tisu bekas yang tadi kugunakan untuk mengeringkan wajahku.
“Kau kan… yang membunuh Sita?!” tuduh Ester kejam dengan suara yang kedengaran bengis di telinga.
Dahiku berkerut, merasa sangat tersinggung. “Ap—apa sih maksudmu?” tanyaku gugup.
“JANGAN MUNGKIR!” Ester mendadak meninggikan suaranya. “NGAKU! Kalau kau” (dia menunjuk-nunjuk hidungku) “yang membunuh Sita…”
“Ap—”
“Kau kesal karena dia selalu mengerjaimu, dan kau membunuhnya karena dendam kesumat padanya!” Ester terus nyerocos, tidak memberikan kesempatan bicara padaku. “Dasar FREAK!” dia mendorongku dengan kasar ke belakang sehingga pinggulku menghantam pinggiran wastafel, membuatku mengaduh kesakitan. Spontan menekan-nekan pinggul belakangku yang nyeri.
“Kau salah paham, Ester,” kataku, mengangkat tanganku ke arahnya, memintanya untuk mendengarkanku. “Kalian semua—” aku memandang ke ketiga temannya yang lain yang semua matanya menyipit sebal padaku “—salah paham.”
“Sudah… Ngaku saja, deh. Kau yang membunuhnya,” Dian angkat bicara, menyedekapkan kedua tangannya di depan dada. “Kau bisa saja menyantetnya.”
“Aku…”
“Dasar cewek aneh!” maki Cherry, dengan tak sabar mendekat dan menempeleng kepalaku, membuat rambutku yang terjurai jadi berantakan menutupi sebagian wajahku. “BRENGSEK!” makinya lagi.
Aku sudah tidak bisa menahan kesedihanku lagi. Butir-butir air mata besar-besar berjatuhan dari kedua mataku. Apa salahku? Kenapa mereka bisa menuduhku seperti itu? Sungguh kejam mereka.
Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu. Sesuatu yang bergerak di dalam diriku. Meluap-luap seperti air bah. Panas dan menggelegak-gelegak bagaikan lava gunung berapi yang siap meledak. Perasaan itu semakin-lama semakin cepat naik menuju kepalaku, menyelubungi otakku, membuatku tidak nyaman, dan terakhir… mataku sakit. Luar biasa sakit. Seperti ditusuk-tusuk beratus-ratus benda tajam.
Aku menjejalkan wajahku ke kedua tanganku. Menekan-nekan kedua mataku yang sekarang terasa panas membara dengan panik, sementara empat gadis di depanku, masih ribut menyumpahiku seraya memukul, menempeleng bagian tubuhku mana saja yang bisa mereka jangkau.
“Ngaku saja, FREAK!...”
“Kenapa kita tidak panggil polisi saja…”
“Tidak ada bukti sebelum dia ngaku. Bodoh amat, sih!...”
Aku merasa badanku semakin lemah. Kakiku tak lagi kuat menyangga tubuhku, sehingga aku merosot ke lantai dengan kedua tangan masih di wajahku.
“Alaahhh… pura-pura!” lengking Ester segera. “Tidak akan mempan!”
Kepalaku semakin sakit. Mataku semakin perih dan sekarang—sepertinya—berair. Air matakah? Aku tidak berniat sama sekali menyelidikinya karena rasa sakit yang kuderita semakin menyiksa.
Aku tidak kuat. Aku tidak kuat!
“Hei Nali!” sayup-sayup aku mendengar suara memanggilku. Tidak tahu siapa. “NALI! Na—”
Cuma sampai situ saja yang kudengar. Karena sedetik kemudian aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.
(Bersambung)


Sebuah Novel dari Putu Indar Meilita

Read more...

The Devil's Eyes: 12th Chapter

>> Wednesday, September 29, 2010


12


 “DARIMANA, Nalini?!” gelegar dosen Bahasa Indonesia-ku, Bu Tince, yang luar biasa galaknya, ketika aku masuk ke dalam kelas, dengan senyum meringis di wajahku. Bu Tince sedang duduk bersandar di ujung depan meja dosen, menghadap ke arah kelas.
“Saya sudah bilang, saya tidak suka kalau ada siswa yang terlambat hadir di mata kuliah saya,” katanya lagi memperingati seraya membetulkan posisi kacamata bacanya.
“Saya—”
“DUDUK! Jangan bengong saja di sana!” tukas Bu Tince galak, bersedekap.
Aku tidak berkata-kata lagi, segera melesat ke mejaku, yang berada persis di depan meja dosen diiringi tawa kecil yang sangat tak enak dari Ester dan teman-temannya. Aku yakin dia masih menyimpan dendam padaku karena kejadian di kantin beberapa saat lalu.
“ESTER! Diam!” Bu Tince menyentak keras, membungkam kikik Ester yang tawanya terdengar paling keras.
Kelas hening seketika. Dua puluh empat kepala serempak menunduk ke arah diktat Bahasa Indonesia yang terbuka di atas meja masing-masing; aku dengan cepat mengeluarkan diktatku dan membukanya, mencari halaman 101—meneladani tulisan sambung kurus Bu Tince di white-board:

Halaman 101. Puisi dan kemajuannya di zaman modern

PUISI, seperti yang telah saya jelaskan di awal kelas,” Bu Tince mulai bicara dalam suara empuk dan lantang, “saya ulangi lagi, bagi yang baru saja datang”—dia menyindirku— “adalah…”
TOK! TOK!
Bu Tince berhenti bicara. Manyun  seketika. Sementara aku, dan sepertinya juga seisi kelas, mengawasi pintu di pojok kiri ruangan dengan penuh rasa penasaran, siapa lagi kira-kira yang akan kena semprot Bu Tince, yang sangat jengkel bila diganggu saat sedang mengajar.
Bu Tince menggerutu pelan, kemudian berteriak, “MASUK!” dengan mata menyipit ke arah pintu.
Gagang pintu diputar perlahan, kemudian pintu ditarik membuka ke arah luar, dan seseorang masuk. Ternyata orang itu Pak Todi,  kepala Humas Universitas, yang juga adalah ketua jurusan Sastra. Tampang memberengut Bu Tince segera mengendur, tersenyum kikuk, dan segera berdiri dari kursinya. Secepat mungkin Bu Tince melangkah menghampiri Pak Todi, yang rona mukanya sekarang kelihatan cemas.
“Ada apa, Pak?” tanya Bu Tince buru-buru.
“Kita bicara di luar saja, Bu,” kata Pak Todi kedengarannya tegang setelah sebelumnya memandang berkeliling kelas, melemparkan senyum muram pada kami, para mahasiswanya.
“Oh, ya—ya. Tentu…” timpal Bu Tince segera.
Pak Todi membuka pintu, dan mempersilakan Bu Tince keluar terlebih dulu, baru kemudian dia menyusul.
Begitu pintu menutup, kelas yang tadinya hening langsung riuh. masing-masing orang segera menyibukkan diri berbicara dengan teman sebelahnya. Saling bertanya-tanya apa kiranya yang akan dibicarakan oleh Pak Todi dengan Bu Tince, sampai-sampai Pak Todi sendiri yang mendatangi Bu Tince.
“Pasti penting, tuh…”
“Mungkin bicarain soal ujian bulan depan…”
“Jangan-jangan Pak Todi mau nembak Bu Tince…”—itu jelas-jelas spekulasi yang tak masuk akal.
Sementara teman-teman sekelasku sibuk berbicara sendiri, aku hanya bisa bengong di mejaku, menatap kosong diktat, dengan benak dipenuhi Sita, mama Sita, Sita, mama Sita, dan…
Mendadak semua ponsel seisi kelas—kecuali ponselku—serempak berbunyi. Bukan nada dering, karena frekuensinya sangat pendek—sepertinya hanya sms. Tapi kenapa bisa serentak begitu, aku membatin.
Aku memberanikan diri menolehkan kepalaku ke belakang, ke arah teman-teman sekelasku yang sekarang sedang memeriksa ponsel masing-masing.
“Oh Tuhan,” pekik Cherry kelihatan shock, menggeleng-gelengkan kepalanya, membeliak menatap sahabat-sahabatnya bergantian, yang dari tampangnya juga sama terguncangnya dengan Cherry. Terutama Ester.
Kelas langsung ramai. Lebih ramai dari sebelumnya. Aku yang ketinggalan informasi hanya bisa menatap ingin tahu wajah-wajah teman sekelasku yang berekspresi sama: kebingungan dan juga ngeri, berharap penuh ada salah satu dari mereka yang berbaik hati memberitahuku, apa yang tertulis di sms yang mereka terima.
“Sita… Masa sih?”
DONG!
Kepalaku seperti dihantam gong super besar begitu mendengar nama Sita disebut oleh salah satu teman sekelasku, yang bernama Heru, yang masih memandang terpaku layar ponselnya.
Seribu pertanyaan segera menyergapku. Pikiranku melayang ke mama Sita; apakah dia mendengarkan pesanku dan sekarang sedang berusaha masuk ke areal belakang kampus sastra dengan polisi atau…
“Nali…” sebuah suara membuatku tersentak dari lamunku. Aku mendongak buru-buru, dan menemukan Sita berdiri di depanku. Ekspresi wajahnya kelihatan cemas namun juga bersemangat.
Aku tidak bisa menyahut di depan banyak orang seperti ini. Dengan perlahan aku menyandarkan punggung ke sandaran kursi, sambil menenangkan diri, dan mataku mengejap ke arah Sita.
“Mamaku… datang, Nalini,” dia memberitahuku. Suaranya kedengaran bergetar. “aku hanya mau memberitahumu itu saja.”
Setelah itu tiba-tiba saja dia lenyap dari hadapanku, meninggalkan kabut aura yang meliuk mengikuti arah kemana dia menghilang.

 

(bersambung)

Sebuah Novel dari Putu Indar Meilita

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP