Story: (1) The Accidental Kiss

>> Monday, October 26, 2009

PADAT sekali bus ini.














 Aku berdiri menggelantung di bagian tengahnya, dengan dua ibu bertubuh gemuk mengimpitku, membuatku merasa seperti sosis yang tergencet roti, dengan keringat yang meleleh dari sekujur badanku sebagai mayonesnya.
Untungnya salah satu dari mereka yang berdiri di depanku sedang bersiap turun di halte selanjutnya, membuatku berdoa, mudah-mudahn orang yang menggantikannya tidak bertubuh gemuk seperti dia, atau paling tidak, minus bau bawang, yang harus kuhirup selama hampir satu jam perjalanan dari halte rumah sakit tempatku magang sampai sekarang.

Akhirnya bus melambat (si ibu yang berdiri di depanku tadi bergeser ke belakang bus, bersama beberapa penumpang yang juga akan turun; bau bawang perlahan raib), sampai akhirnya berhenti tepat di depan halte, yang lumayan sepi (syukurlah). Beberapa penumpang turun dan segera digantikan oleh penumpang baru.

Suara cekikikan genit gadis-gadis remaja yang naik bergerombol, menarik perhatian banyak orang. Mereka  terkekeh, berkasak-kusuk, sambil mengamati seorang pria bertopi, berjaket jins hijau belel dan lehernya dilingkari syal panjang hitam, yang menyusul naik di belakang mereka.
Pria itu tidak menghiraukan gadis-gadis itu, segera bergerak ke tengah setelah menyetor tiket busnya--tampaknya memang ingin berdiri sejauh mungkin dari mereka.

Aku menggelengkan kepala, dan memalingkan wajah ke arah jendela, menatap gelap pemandangan di luar. Sudah jam sembilan malam, dan aku harus tersiksa di dalam bus, berimpitan dengan penumpang dengan berbagai ukuran tubuh dan aroma tubuh, bercampur AC yang kian lama kian memualkan.

Mendadak sesuatu mengantuk pundakku, keras dan berat. Aku mengaduh kecil, dan orang yang berdiri di sebelah kananku--ternyata pria bertopi itu--segera meminta maaf, menggeser tas ranselnya yang kelihatan sarat isi ke depan tubuhnya.
Aku nyengir sekilas, dan kembali memandang jendela, meratapi nasib malang, karena memiliki dua pasang kakak kembar laki-laki, yang sama sekali berniat menjemput adik perempuan mereka satu-satunya, padahal mereka dibekali kendaraan sendiri oleh mamaku. Sungguh menyebalkan.

"BOARD HOUSE,"
Suara si pengemudi terdengar amat lantang di seluruh bus, dan itu membuat perasaanku lebih baik, karena tahu, kalau sebentar lagi aku akan tiba di rumah. Board House adalah nama komplek perumahan dimana aku, empat kakak, dan mamaku tinggal.

Aku membetulkan posisi tali tasku, bersiap bergeser ke belakang. Beberapa penumpang yang duduk, berdiri, mereka sepertinya juga hendak turun, dan sebagian lagi, yang berdiri sepertiku, telah bergerak menuju pintu belakang. Aku mengikuti.
Namun mendadak bus berhenti. Semua penumpang terdorong ke depan. Tapi sepertinya aku yang lebih parah, terempas  tak berdaya, dan tergencet di antara ibu gemuk yang berdiri di belakangku dan pria bertopi, yang untungnya sempat memegangiku sebelum terjatuh.
Ibu itu langsung minta maaf, dan aku hanya berkata, "Nggak apa-apa," dengan berat hati, sementara bus mulai berjalan lagi, diiringi gerutu penumpang yang memaki pengendara motor yang dengan nekat menyalip bus kami.

"Mau mati kali," umpat seorang pria paruh baya yang duduk di depan keras-keras.

Umpatannya itu segera disambung oleh penumpang lain yang juga kesal dengan si pengendara motor, yang menyebabkan supir bus harus menginjak pedal rem tiba-tiba.

"Kau tidak apa-apa?" tanya suara renyah pria bertopi itu, yang masih memegangiku, rapat dengan tubuhnya yang hangat dan--wangi.

Aku mengangkat wajah, dan baru hendak menjawab dan mengucapkan terima kasih padanya, ketika tiba-tiba bus kembali di rem mendadak, lampu mendadak mati, badanku terempas ke depan dan...

Oh--my--God!

Yang aku tahu sekarang bibirku menempel di bibir pria bertopi itu. Are we kissing now? Sepertinya tidak, kalau hanya menempel seperti ini.

Tapi... jantungku... kenapa berdebar kencang sekali? Dan bodohnya kenapa aku tidak melepaskan bibirku dari bibir pria ini, yang terasa begitu hangat, lembut--menyenangkan.
Waktu juga..., serasa berhenti.
Aku dan pria ini bertatapan--mata abu-abunya berkilauan, jernih sekali--tapi tidak berniat menarik wajah satu sama lain. Dan saat dia membuka bibirnya sedikit, aku tetap diam, malah ikut membuka bibirku, dan...

Okay. Now we are kissing.












(bersambung)






0 comments:

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP