Somekinda Wonderful

>> Monday, September 14, 2009


BAB 1
KULIHAT DIA

Bagian 1: Aku dan Peni


"ED!" teriak Peni, adik kembarku dari ambang pintu yang menjeblak terbuka.
Oh, I know that face... That face isn't my sister. Dan aku sepertinya tahu, apa yang menyebabkan matanya menyipit menatapku, dengan napas mendengus-dengus seperti banteng marah. Tapi aku tetap tenang, duduk di kursi di depan meja belajarku, seraya memetik gitar, memainkan nada sendu, yang telah beberapa menit lalu telah menemaniku menerawang ke langit melalui jendela berkisi.
"Aku dengar... kamu nggak datang ke Prom entar malam?" dia langsung menyemburku, masuk tergesa ke dalam kamar dan berdiri dengan mata melotot di sampingku. Peni masih mengenakan seragam sekolahnya, toganya disampirkan di lengannya. Kami baru saja melaksanakan wisuda kelulusan SMU tadi pagi.
"Oh—ya," jawabku kalem, mengangguk-angguk, masih memetik senar dengan penuh perasaan, "Kok, kamu tahu?"
“Kamu nggak bisa nggak datang ke Prom, Ed,” kata Peni, tidak menggubris pertanyaanku. “Tonight is my night! Penilaian terakhirku sebagai finalis Home Coming Queen. Dan kamu sebagai saudara kembarku harus mendukung... dengan begitu aku bisa kepilih,” kata Peni berapi-api.
Aku mengeluh, memutar mata ke atas. "Pen, nggak ada hubungannya, aku datang apa nggak dengan kamu kepilih jadi Ratu Pulang Kampung itu...”
“Ada aja,” kilah Peni galak. “Dan namanya Home-Coming Queen, bukan Ratu Pulang...”
“Apa pun itu,” selaku buru-buru, sebelum dia mulai menjejaliku dengan sejarah pemilihan Home Coming Queen di sekolah kami sejak tahun 80-an sampai dengan tahun 2000-an, termasuk kejadian-kejadian dramatis yang pernah terjadi saat penobatannya. “Pokoknya, tetap gak ada hubungannya sama sekali...”
Peni menggeram gemas. “Jelas ada, Edi! Kita ini kembar—satu-satunya kembar cowok-cewek di sekolah. Selama ini... kita terkenal karena—kita kembar—” (Peni mulai histeris) “—dan aku yakin, itu akan menambah suara kalau kita berdua muncul malam ini. Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus datang, walaupun aku harus menyeretmu.”
Aku mengempaskan napas dengan gusar, menatapnya jengkel. “Kenapa sih kamu ngotot banget? Memangnya apa pengaruhku dengan penilaian Home-Coming itu? Lagian apa yang aku lakukan di sana, selain bengong.”
“Apa kamu lupa kalau teman-temanmu juga datang? Kenapa kamu jadi takut akan bengong?” tukas Peni tak sabar.
“Aku nggak punya banyak teman di sekolah... Paling teman-teman satu kelas, satu tim Kendo...”
“Ya, kamu kan bisa hang-out sama mereka,”
“Males...”
“Ed!” Peni habis kesabaran, dia meninggikan suaranya saat menyebut namaku, tanda dia sudah mulai emosi. “Aku minta tolong padamu... kehadiranmu akan sangat mempengaruhi penilaian juri, dan berpotensi untuk menambah jumlah suara pemilihku.”
“Sepertinya kepalamu mesti diperiksa, Pen,” kataku, mengernyitkan alis. “Bagaimana mungkin kehadiranku bisa membantumu menambah jumlah suara?”
“Tentu saja bisa,” sambar Peni sengit, “kamu saudara kembarku—” (aku memutar mataku ke atas; menurutku itu sama sekali tidak ada kaitannya) “—satu-satunya kembar cowok-cewek di sekolah, dan itu membuatmu cukup ngetop...”
“Siapa bilang aku ngetop?”
“Tentu saja kamu ngetop,” Peni berkeras, “karena kamu adalah saudara kembarku—saudara kembar dari Peni Darmawan. Coba, siapa sih yang nggak kenal aku?”
Okay, here come the narcist Peni. Dan waktunya pause!
Sebelum kita melihat Peni melanjutkan omelannya, sebaiknya aku menjelaskan dulu, kenapa dia bisa berkata, “Coba, siapa sih yang nggak kenal aku?” dengan penuh percaya diri seperti kalimat terakhir yang barusan itu.
Well, bisa dibilang, Peni, adik kembarku ini narsis dan over-confidence, akibat keseringan ikut kontes-kontes kecantikan sejak usianya sembilan tahun, yang menurut mama, akan membentuk karakter dan menguatkan rasa percaya dirinya. Tapi ternyata dia malah jadi kelewat percaya diri, dan merasa dirinya adalah dunia, dan kita ini—keluarganya, teman-temannya, orang-orang di sekitarnya, adalah satelit yang mengelilinginya. Dia senang menjadi pusat perhatian, dan bisa stress sendiri kalau tidak ada orang yang terpukau dengan penampilannya.
Kebetulan saja... Peni memang cakep, tubuhnya proporsional (tinggi, langsing dan berisi), rambut panjangnya hitam-lurus, ditambah mata cokelat yang besar—itu kebetulan atau kenyataan ya? Dia juga kapten Cheerleaders—yang jabatannya baru saja diserah-terimakan olehnya pada anak kelas dua, tidak tahu siapa, tadi pagi setelah acara wisuda selesai—yang membuat dia jadi ngetop di seluruh sekolah. Dan dia benar, tidak ada murid (mulai dari kelas satu sampai dengan kelas tiga, bahkan sampai ke petugas kebersihan) yang tidak mengenalnya. Selain itu, wajahnya juga cukup sering nampang di sebuah majalah remaja (dia model freelance sejak umurnya sebelas tahun), yah, meskipun tidak tenar-tenar sekali, tapi lumayanlah untuk menambah alasan kenapa dia bisa populer. Plus, jadi cewek satu-satunya yang punya saudara kembar cowok (which is me) di sekolah, lagi-lagi membuatnya semakin disorot. Karena itulah dia ingin sekali aku hadir di pesta Prom malam ini, untuk melengkapi ketenarannya.
Sepertinya segitu dulu tentang Peni, dan sekarang—play! (Sebelum mata Peni loncat dari rongganya karena kelamaan melotot).
"Selain itu, kamu adalah Juara Kendo tingkat SMU se-Jakarta,” lanjut Peni lagi, seakan itu menyelesaikan masalah. “Pokoknya kamu—harus—dateng—malam—ini,” dia berkata lagi, menekankan tiap kata yang diucapkannya padaku, sambil mengacungkan telujuknya ke depan hidungku. Ujung-ujung toganya bergoyang-goyang di udara. “Lagian dengan datang ke pesta itu, kamu bisa berkenalan sama cewek-cewek lain, mumpung kamu sekarang jomblo.”
Rasanya kepalaku langsung dihujam ratusan pisau, begitu mendengar kata ‘jomblo’ terlontar dari mulutnya.
Ooooh. Kenapa Peni mengikut-sertakan kata ‘jomblo’ itu dalam ceramahnya? Itu membuat ingatanku langsung melayang ke sosok tinggi-langsing, berambut panjang ikal kemerahan, dengan senyum memikat, di bawah mata yang hitam berbinar. Sosok yang membuatku merasa sangat patah hati selama satu bulan menjelang kelulusan.
"Kalau kamu nggak dateng cuma gara-gara cewek tolol itu, kamu akan bikin satu sekolah ngetawain kamu lagi," lanjut Peni, sambil meletakkan toganya di atas meja. "Lagian, kalau aku menang... itu bisa membalas sakit hatimu, ya, kan?"
"Aku nggak ingin membalas sakit hati," kataku cepat, berjengit. “Dan aku nggak ingin kamu atau siapa pun membalaskan sakit hati atau apa pun padanya. Aku tidak mendendam... Lagipula aku... sudah melupakannya.”
Bohong, kata suara kecil dalam kepalaku. Tidak ada seorang pun di dunia ini, yang dapat melupakan orang yang sangat disukai hanya dalam waktu satu bulan. Dasar pembohong.
Gigiku mengertak di dalam mulutku yang terkatup. Suara kecil itu memang benar... bagaimana mungkin aku bisa melupakan Kumari secepat itu.
Dia, Kumari, bagiku adalah gadis paling cantik yang pernah kulihat dan anugerah terindah yang pernah hinggap sejenak dalam hidupku. Aku pacaran dengannya sejak pertengahan kelas satu, dan membuatku harus bersitegang setiap hari dengan Peni yang tidak merestui hubungan kami (Kumari adalah rival terberat Peni dalam urusan top-topan di sekolah; selama ada Kumari, Peni tidak akan pernah bisa jadi nomor satu). Sayangnya, Kumari mulai berubah semenjak dia mulai menjadi model foto dan catwalk menginjak pertengahan kelas dua. Sifatnya yang tadi apa adanya, jadi mirip sekali dengan Peni—gila barang, sok gaul dan lain-lain. Meskipun begitu, karena sangat sayang padanya, aku mengalah.
Sayangnya, tepat sebulan lalu, Kumari memutuskanku di depan seantero tim Kendo sekolah yang sedang berlatih pedang kayu, mengatakan keras-keras kalau dia memutuskanku mulai hari itu, karena dia sudah bosan padaku. Setelah itu dia mengibaskan rambutnya, berbalik, dan  meninggalkanku begitu saja dalam kondisi bengong dan tidak fokus (aku baru saja kena pukul pedang kayu lawan latihanku tepat di muka). Keesokan harinya, berita itu menyebar dengan cepatnya ke seluruh sekolah, dengan banyak versi dan sulaman di sana-sini. Salah satunya yang membuat aku geleng-geleng kepala adalah cerita tentang aku menangis tersedu-sedu sambil berteriak, "Kumari! Jangan tinggalkan aku,” dengan dramatis dan bermaksud bunuh diri dengan pedang kayuku sendiri. Unbelievable. 
"Kamu pasti takut kalah kharisma sama cowok barunya, si Numbara itu, kan?" kata Peni lagi, belum menyerah—salah satu senar gitar yang kupetik langsung putus. “Numbara memang cakep sih... Ganteng, terkenal, pemain sinetron, tapi kamu gak kalah keren kok, kalau rapi...”
"Jadi... Kumari... akan datang... sama... cowok?" aku berkata dengan susah payah, sambil memeluk gitarku erat-erat.
"Ya—eh," muka Peni mendadak kosong, "kamu... belum tahu?"
Aku dan Peni berpandangan hening beberapa saat, sampai akhirnya aku bangkit dari kursi, meletakkan gitarku asal saja di lantai dan berjalan menuju tempat tidur, sementara Peni mengejarku sambil berkata, "Please... Please... Please," yang diatasi oleh kata, "Nggak... Nggak... Nggak." dariku, dan buru-buru menelungkup di atas kasur.
"Edi... please..." bujuk Peni, mengguncang-guncang pundakku. "Sori, kamu nggak tahu... tapi... Oh, please, Ed," Peni terus-terusan memohon.
"Nggak mau," tegasku dalam suara teredam, karena aku menutup kepalaku dengan bantal, "Mau kamu mohon kaya apa pun, aku tetep nggak mau dateng ke Prom norak itu."
Pecahlah tangis Peni, bersamaan dengan bertambahnya beban kasur di sebelahku. "Hu hu... please, Edi..." sedunya dari sebelahku, "aku mohon—hu hu—dateng ke Prom... Ini tahun terakhirku—" (aku benar-benar tidak tega kalau sudah mendengar Peni menangis) "— aku ingin sekali menang dari si Kumari itu sekali-sekali... Aku ingin kamu juga ada di pesta... Masa di hari terakhir sekolah... kau tega... membiarkan saudari kembarmu sendirian... huhu...”
Aku mengeluarkan suara keluh tak sabar, menyingkirkan bantal dan berguling ke samping, memandang Peni yang duduk di tepi tempat tidur sambil bercucuran air mata. Gayanya menagngis persis seperti anak kecil minta permen, dengan lengan menempel di depan mata dan digerakkan ke kanan-ke kiri. Jurus andalannya, yang selama ini memenangkan argumen dan perdebatan denganku. Dia tahu, aku tidak bisa melihatnya sedih, karena dengan begitu aku juga akan merasa sedih. (Susahnya jadi anak kembar, emosi-mu akan sangat menentukan emosi kembaranmu yang lain).
Dan akhirnya dengan sangat berat hati—setelah mendengar ribuan kata-kata menyedihkan yang telontar dari mulutnya, termasuk kalau dia berniat bunuh diri dengan memakan banyak sayur pare buatan mama yang sangat dibencinya, meskipun aku sempat berpikir mengatakan padanya kalau itu bukan cara efektif untuk bunuh diri secara cepat—aku menyanggupinya.
“Ya, sudah... Aku akan datang.”
Peni langsung heboh, memelukku dan menciumiku habis-habisan sampai wajahku lengket.
“Aku sudah siapkan jasmu untuk nanti malam," katanya, seraya bangun dari tempat tidur setelah dia melepasku dan sudah kembali menjadi dirinya sendiri. Aku langsung membeliak, menggumamkan, “Jas?” tanpa suara. "Ya, jasmu. Tema Prom malam ini adalah "Twilight", yang cowok harus berpenampilan seperti tokoh-tokoh di “Twilight”, dan aku memutuskan kamu jadi Edward Cullen saat menghadiri pesta dansa."
Aku berjengit. Ngeri sekali mendengarnya. I don’t even like that stupid movie.
"Rambutmu sepertinya tidak perlu dirubah lagi," katanya, mengamati rambut coklatku yang berantakan, mencuat ke atas. “Yah, hanya perlu pake jas dan dasi... dan sedikit make-up...”
"Kalau kamu memaksa menempelkan puff-mu itu ke wajahku, aku secara resmi mengundurkan diri," selaku segera, bersungut-sungut. "Aku nggak mau pake make-up apa pun."
"Tapi..."
"Kamu mau aku datang nggak?"
Peni menyerah, mengangkat bahu, kelihatan sebal, tapi tak lama kemudian dia nyengir lebar. "Aku akan dateng sama date-ku ke sekolah, kamu bawa mobil sendiri aja," katanya ceria. 
Aku meraih bantal dan menutup kepalaku lagi, lalu berkata, "Terserahlah."
"Kamu harus datang, paling telat jam delapan malam," dia mengingatkan.
"Ya..."
"Jangan telat dari itu."
"Ya..."
"Kalau kamu nggak dateng atau telat... aku akan mengatakan pada teman-teman satu sekolah kalau matamu bengkak karena menangisi Kumari."
"Tidak peduli."
"Kamu harus datengggggg..."
Aku mengangkat bantalku sedikit, melihat Peni yang sudah berdiri dari tempat tidurku. Wajahnya memberengut. "IYAAAAA..." kataku keras dan panjang, kemudian menekan bantal ke wajahku lagi.

0 comments:

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP