Word For Me (I)

>> Tuesday, January 20, 2009

Aku mengalami semua yang harus kualami agar aku menjadi pribadi yang kuat
-Mario Teguh-

Kata-kata Pak Mario bener banget kan? Saya tahu bagaimana rasanya, menghujat Tuhan, marah pada semua orang. Merasa semua orang dan Tuhan tidak adil pada saya. Menginginkan mereka mengasihani saya, menunjukkan kelamahan dan kerapuhan diri saya. Minta diperhatikan, dicintai, dianggap oleh semua. Saya ingin mereka semua datang saat saya sedang merasa sakit atau sedih. Hal-hal yang paling saya benci adalah saat kuliah. Saya berteman dengan orang-orang yang sebenarnya tidak pantas saya jadikan teman, hanya karena saya merasa hebat saat hang out bersama mereka. Mereka hanya ada saat saya gembira, tapi tidak pernah ada saat saya gundah. Emosi saya juga sangat labil. Gampang menangis, hanya karena sindiran tidak berguna atau gosip2 tidak berdasar. Saya berdebat dengan orang lain tanpa dipikir terlebih dahulu mengenai benar atau tidaknya. Kesabaran saya dalam tingkat yang amat sangat rendah. Saya merasa orang tua tidak menyayangi saya, karena mereka memberikan uang saku pas2an setiap bulan. Tidak membelikan saya handphone, dll. Oh, betapa tololnya.

Seiring waktu, ketika saya akhirnya memaksakan diri untuk menghindari hidup kekanakan itu, dan berkumpul bersama keluarga, saya sadar, bahwa semua kekesalan saya itu tidak penting. Yang terpenting adalah, bagaimana cara saya menyikapinya, dengan terus meratap dan membenci atau dengan penuh semangat dan kesabaran menjalani hidup yang memang telah digariskan Tuhan untuk saya. Saya memilih yang kedua. Tidak hanya itu, saya belajar mengendalikan emosi dan diri saya sendiri, karena benar, bahwa "musuh terbesar seseorang itu adalah dirinya sendiri". Saya secara tidak langsung membentuk sebuah perisai untuk menghela rasa marah dan kesal dari orang-orang yang mencoba menguji kesabaran saya. Perlahan-lahan saya menjadi seseorang yang lebih tegar dari sebelumnya. Saya menjadi lebih percaya diri, dan tidak takut dengan orang-orang yang dulu menyakiti saya. Saya tidak peduli. Positifnya saya lebih mandiri, tidak lagi merengek meminta bantuan orang lain (kecuali pacar dan orang tua, tentu saja). Saya tidak perduli tidak memiliki sekumpulan orang yang menyebut dirinya "gang" atau apa pun bersama saya. Dan jujur,.... saya lebih bebas. Lebih bahagia. 

Sekarang, saya terus bersyukur pada Tuhan, karena saya diberikan pelajaran mengenai hal menyakitkan tersebut saat saya masih sangat muda. Karena pasti akan sangat terlambat bila hal menyebalkan itu terjadi pada umur saya sekarang dan pasti akan lebih memalukan. Saat ini, bila ada masalah seperti saat masa kuliah saya dulu, saya lebih memilih untuk mengalah dan tersenyum. Atau, introspeksi diri. Saya lebih tahu bagaimana cara mengatasi hal tersebut, dan tertawa sendiri bila ada teman atau siapa pun yang mengalami hal yang sama seperti saya. Saya tidak gampang terpancing emosi, oleh kata-kata konyol dari orang lain. 
Saya menjadi lebih kuat.

0 comments:

Post a Comment

Please, do leave comments

Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP