The Adorables (12): Who are we?

>> Sunday, May 8, 2016

Baca: The Adorables (11)

Who are we?

KETIKA Juna muncul di dapur, Lea sedang berdiri tercenung di depan kulkas dengan gelas bening berisi air di tangan. Sudah beberapa waktu ia bengong begitu, karena masih terbayang kejadian beberapa saat lalu di kolam batu. Rencananya setelah minum, ia  bermaksud mencari telur untuk dimasaknya menjadi telur dadar, namun semua langsung buyar begitu ingatannya akan Juna yang keluar dari air menghampiri. Menyusul kemudian rambut basahnya yang menetesi air, matanya, hidungnya, pipinya, dadanya, tatonya—Oh, Cukup sulit untuk menepis semua itu dari benaknya, dan agak susah untuk memercayai penglihatannya.
Kalau saja ia tidak mencubit pergelangan tangannya keras-keras berulang-ulang, ia pasti tetap menganggap ia sedang bermimpi.
So,” tanya Juna setelah selesai mengenakan apron hitamnya, “mau makan apa?”
“Telur. Telur dadar,” jawab Lea susah payah, mengalihkan pandang dari kerah v-neck biru gelap yang dikenakan Juna. Panas seketika merambat mulai dari leher hingga keningnya. “I-itu saja cukup.” Ia menepuk-nepuk dahi beberapa kali, ketika tato naga di punggung Juna kembali menyambangi.
Juna memandang Lea dengan berkerenyit. “Kepala kamu sakit?”
“Nggak.” Lea cepat-cepat menggeleng. “Cuma… lapar.” Ia meletakkan gelas yang sudah kosong di bak cuci.
“Hm. Perut yang lapar, dahi yang ditepuk.”
Lea meringis.
“Telur dadar saja?” Juna mendekati kulkas dengan santai. “Aku kira kamu minta dibuatkan sesuatu yang agak heboh.”
“Saya bisa buat sendiri kok, Chef.” Lea menyusul. “Nggak perlu repot. Saya cuma perlu tahu dimana telur, dan—”
Hime. Anda terlalu banyak bicara.” Juna menatap lurus ke mata Lea. “Saya tidak merasa repot sama sekali.”
Lea mundur sedikit. Rasanya ia pernah mendengar kata itu disebut. “Chef panggil saya apa?”
“Hime.” Juna melongok ke dalam kulkas.
Lea bersedekap. “ ‘Hime’ itu apa?”
Juna menarik keluar satu karton telur dari dalam kulkas, kemudian menutup pintu kulkas menggunakan siku. “Putri,” ujarnya singkat. Berjalan melewati Lea ke arah kompor gas di atas meja keramik.
“Kenapa Chef sebut saya begitu?”
“Karena sudah seharusnya aku memanggilmu dengan itu.”
Juna sekarang menggerakkan kakinya yang terbalut training pant biru gelap ke rak kayu gantung di tembok belakang. Dari sana, ia menarik dua toples kecil berisi bubuk putih, dan membawanya kembali mendekat.
“Saya nggak ngerti. Saya bukan ‘putri’, cuma… salah satu keturunan Kuroi. Eiji nggak ada menyebut itu.”
Setelah meletakkan kedua toples, Juna memutar badan menghadap Lea dan turut menyilangkan tangan di dada. “Seorang Reiki, adalah putri atau pangeran di jamannya. Walaupun secara literal mereka bukan pangeran atau pun putri, mereka tetap dihormati karena kemampuan mereka. Mengingat, istana pun mengandalkan mereka untuk menyelesaikan beberapa hal pelik waktu itu. Karena itu, kami harus memanggil Anda dengan Hime. Atau… Nona, lebih amannya.”
Juna mengakhiri dengan senyum jenaka. Membungkuk dan menjulurkan tangan meraih botol plastik berisi olive virgin oil yang tinggal setengah di salah satu rak di bawah meja porselen, dan meletakkannya di samping salah satu toples. 
“Saya nggak suka. Dipanggil nona atau apa pun itu.”
“Anda harus terbiasa.” Juna kembali meninggalkan Lea untuk mengambil beberapa perabot dari rak piring.
“Saya nggak suka cara Chef bicara sama saya. Saya nggak nyaman. Apa Chef kerasukan Malini?”
Juna terkekeh. “Kalau begitu, jangan pakai kata ‘saya’ lagi. You’ve promised me before.”—Kamu sudah janji sebelumnya.
Lea lupa. Sebelumnya ia memang telah membiasakan diri menggunakan kata ‘aku’ setiap bicara dengan Juna. Namun, kejadian malam ini membuatnya benar-benar bingung, dan sepertinya sedikit mengganggu memori di kepalanya.
“Sori,” ucapnya lemah.
It’s ok.” Juna tersenyum simpul. “By the way, kamu mau campuran apa di telur dadarnya? Cabe, bawang—”
Lea menggeleng cepat-cepat. “Just plain. Telur saja. Sama… micin?”
Tawa Juna kembali berderai. “Aku nggak pakai MSG di semua masakanku, Lea,” ia memberitahu. “Jadi sepertinya kamu harus puas dengan campuran garam dan gula.”
Lea mengangkat bahu. “You’re the Chef.”
Setelah itu hening. Juna memecah dua telur dan mencampurkannya jadi satu di atas mangkuk stainless, kemudian mengaduknya dengan cepat menggunakan sumpit. Sementara Lea mengamati semua proses tersebut dengan bersandar di tepi konter.
“Chef?”
“Ya?”
“Tempat tadi; yang banyak tanaman itu… tempat apa?”
Suara desing minyak goreng terdengar nyaring begitu campuran telur dituangkan dari mangkuk oleh Juna ke wajan teflon kotak. Aroma harum langsung menguar ke sekeliling, membuat perut Lea semakin keroncongan.
“Cuma kebun,” sahut Juna, tanpa memandang Lea. “Tempatku memelihara semua tanaman yang biasa kupakai untuk bahan ramuan.”
Ia kemudian membalik telur dadar yang sudah setengah matang lalu menggulungnya perlahan masih dengan sumpit. Untuk beberapa saat perhatian Lea terkonsentrasi pada tangan Juna, sumpit dan telur gulung yang masih setengah matang di dalam wajan. Ia tidak pernah melihat tekhnik memasak telur dadar seperti itu sebelumnya. Jadi merasa lumayan takjub sendiri ketika menyaksikannya.
“Dan… kolam itu?” Lea bertanya lagi. Dan tubuh Juna yang muncul dari dalam air sekali lagi berkelebatan di benaknya. “Apa… Chef memang suka berendam di sana?”
Juna menggerakkan mata pada Lea. “Apa kamu bingung lihat aku di sana?” Senyum simpulnya kembali.
“Bingung dan juga… heran. Tapi… itu hak Chef kan?”
Tawa Juna lepas. Sedangkan Lea masih meraba-raba apa yang lucu dari kalimatnya barusan. Kendati begitu ia menyelipkan senyum tipis di wajahnya.
“Setiap orang punya cara sendiri-sendiri untuk menenangkan pikiran,” ujar Juna kemudian. “Dan berendam di dalam air, ampuh menurutku. Keheningan yang didapat cukup bisa mengembalikan konsentrasi yang terpecah.”
“Apa… Chef sekarang sedang… galau?” Lea mendengus geli di akhir kalimat. “Sori,” kekehnya.
“Bukan galau sebenarnya.” Juna turut mendengus. “Bimbang, mungkin kata yang tepat.”
Dan selama beberapa detik setelahnya tak ada yang bicara.
“Tanaman itu,” Lea mulai lagi. Merubah topik bicara. “apa Chef yang menanamnya sendiri?”
“Andaikan cukup waktu untukku bisa melakukannya. Karena butuh waktu yang amat lama dan cara yang rumit hingga salah satu dari tumbuhan tersebut menjadi besar, atau berbuah sesuai dengan harapan kita. Jadi, aku cukup dapat menerima, kalau semua tanaman yang kubutuhkan didatangkan tempat-tempat tertentu kemari.” Juna nyengir.
“Chef… senang tanaman?”
“Aku senang tanaman yang bisa dikonsumsi. Itu lebih tepat.”
“Darimana Chef belajar buat ramuan?”
Juna memandang Lea dengan tampang separo-geli, separo-heran. “Kamu lagi interogasi atau interview?”
“Cuma penasaran. Sebelumnya aku cuma tahu kalau Chef bisa masak. Tapi, ternyata Chef juga bisa buat ramuan yang… pastinya nggak semua orang bisa, dan biasanya butuh waktu bertahun-tahun sampai mampu meraciknya dengan baik.”
“Nggak sekompleks itu.” Juna membalik posisi telur dadar gulung yang masih diprosesnya. “Mungkin karena aku memang suka memasak, dan tertarik dengan segala macam hal yang bisa aku olah untuk mulut dan perut, so, it’s not a big deal for me, untuk membuat ramuan. Nggak perlu lama buatku untuk mempelajarinya. Aku belajar di Jepang, hanya dalam waktu setahun.”
Lea membeliakkan mata. “Apa… karena itu Chef menghilang selama satu tahun kemarin? Chef ada di Jepang?”
“Yups.”
Sekarang Juna mengangkat telur dadar gulung yang telah matang dari wajah dan meletakkannya ke atas piring pipih di atas konter.
“Lalu…, hubungan Chef dengan keluarga Kuroi? Apa… Chef juga…”
Juna jelas mengerti kemana arah kalimat Lea, karena dia segera menggelengkan kepala, dan berkata kalau dia tidak ada hubungan darah apa pun dengan keluarga Kuroi, terutama Lea. Dan ketika Lea bertanya bagaimana Juna bisa mengenal keluarga Kuroi, ia hanya mengatakan kalau Dai yang memintanya datang ke Jepang, dan menawarkan padanya mempelajari tekhnik pembuatan ramuan—segala jenis ramuan, baik untuk pengobatan, termasuk ramuan berbahaya.
“Aku pikir menarik, jadi… aku coba. Dan ternyata, menyenangkan,” Juna menambahkan, sementara imajinasi heboh yang sebelumnya melintas di benak Lea dan melibatkan kuali besar berasap, Professor Severus Snape dan Harry Potter luntur perlahan.
Lea tidak mengharapkan sama sekali kalau Juna akan berkata bahwa Dai mengundangnya datang ke Jepang sebagai awal mula ia tertarik meracik ramuan, karena mengingat bagaimana dirinya ditemukan, ia meyakini pasti hal yang dramatis juga terjadi pada Juna. Ia mengira Juna akan mengatakan kalau dia adalah salah satu orang yang terpilih untuk mempelajari ramuan, tapi ternyata, ia tak lain dan tak bukan, hanya orang biasa yang punya kemauan mempelajarinya; karena Dai menawarkan untuk itu. Well, sepertinya sama dengan Lea yang juga ditawari Dai untuk bekerja di Black House sebulan lalu, dan tanpa perlu pikir panjang menerima tawarannya. But…, tunggu dulu. Apa itu bukan kebetulan?
“Chef?”
“Ya, Lea?” Juna menyodorkan piring berisi telur dadar gulung yang telah matang pada Lea yang segera menerimanya. “Aku ambilkan nasi.”
“Nggak usah,” tolak Lea, sehingga Juna tak jadi membalikkan badan. “Telur dadar saja cukup kok.”
“Ok. Kamu bisa duduk di ujung sana,” tunjuk Juna ke arah meja stainless di ujung dapur yang dikelilingi beberapa kursi. “Aku ambilkan garpu.”
Lea menurut. Senyum riang menghiasi wajahnya seiring langkahnya menuju meja. Prospeknya untuk bercakap-cakap panjang dengan Juna membuatnya larut dalam kegirangan. Ia tak begitu lagi memikirkan memorinya yang menguap mendadak. Tak lagi cemas dengan semua hal yang membuatnya risau beberapa waktu terakhir ini. Semuanya seolah terangkat hanya karena Juna berkata ‘Aku ambilkan garpu.” Dan semoga saja setelah ia memberikannya pada Lea, ia tetap akan tinggal dan menemani Lea makan, tidak mengatakan, “Ok. Kamu makan, aku tidur dulu,” dan pergi setelahnya. Tapi untungnya, itu tidak terjadi. Juna duduk di kursi di sebelah kursi yang Lea duduki setelah memberikannya garpu dan segelas air. Mengamatinya menyantap telur dadar.
“Kamu mau tanya apa tadi?” Juna mengingatkan, saat Lea baru saja menelan suapan pertamanya.
“Aku cuma penasaran, apa Chef Juna kenal Dai juga secara nggak sengaja?”
Lea kembali memasukkan irisan telur ke dalam mulutnya, sedangkan Juna mengernyitkan alis menatapnya.
“Aku kenal Dai sejak aku di Amerika. Kalau dibilang nggak sengaja, sepertinya nggak juga. Dai itu, salah satu pelanggan setia restoran Jepang tempatku bekerja. Kami sering ketemu di sana. Bisa dibilang dia salah satu fans masakanku. Dia selalu mau ketemu aku setelah makan, hanya untuk sekadar ngobrol soal makanan atau hal lain yang bisa kami diskusikan. Jadi…,” Juna menyipitkan satu mata, “apa itu bisa disebut ‘tidak sengaja?”
Telur dadar yang Lea lumat kini meluncur turun melalui kerongkongan. Ia tidak menjawab pertanyaan Juna dengan suara, melainkan senyum ragu. Dia sendiri tidak tahu apa pertemanan yang terjalin antara kedua laki-laki tersebut diawali dengan ketidaksengajaan atau bukan. Tapi Lea yakin, di sini, di black house, orang-orang di dalamnya pastilah memiliki alasan untuk berada di tempatnya sekarang. Seperti Juna, yang ahli membuat ramuan, Malini, yang dikatakan oleh Kenneth punya keahlian di bidang astrologi. Bahkan Kenneth sendiri, yang adalah guru bela diri Shinji. Apa mereka juga ditemukan oleh Dai?
“Apa Malini dan Kenneth… juga bertemu Dai, sebelum bergabung di Black House?”
Juna menggelengkan kepala. “Kenneth datang sendiri untuk belajar bela diri kuno ke Dojo milik keluarga Kuroi, jauh sebelum aku datang. Sementara Malini, ia diasuh oleh keluarga Kuroi sejak kecil. Sama dengan Dai. Ia dan Malini dibesarkan bersama.”
“Oh ya?”
“Dai dan Malini, bisa dibilang sudah seperti saudara kandung. Mereka amat dekat.”
“Kelihatannya nggak begitu,” timpal Lea, memasukkan lagi potongan telur ke dalam mulut. “Mereka kelihatan seperti atasan dan anak buah.”
Juna tertawa. “Sopan santun orang Jepang itu memang agak lebai. Orang yang lebih tua, dengan posisi yang lebih tinggi berhak mendapat penghormatan lebih dari yuniornya. Dan karena Malini lebih muda, ia menghormati Dai sebagai kakak dan juga posisinya sebagai penanggung jawab semua hal tentang Black House, saat Eiji sedang tak ada.”
Lea mengangkat bahu, memilih untuk tidak beropini. Melanjutkan menyantap telur dadarnya yang tersisa separuh. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan, tapi ia tidak tahu apa. Jadi untuk beberapa waktu ia cuma diam dan berkonsentrasi menghabiskan makanannya.
“Jadi… apa sebenarnya yang kamu bicarakan dengan Shinji tadi sore?”
Dahi Lea berkerut. Ia menelan suapan terakhinya secepat yang ia bisa sambil menatap Juna dengan ekspresi tak paham. “Shinji?”
“Ya.” Juna memiringkan muka. “Kamu… ketemu Shinji sore tadi, setelah bicara dengan Eiji.”
Lea meletakkan garpu di atas piring yang sudah kosong. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri sementara matanya mengejap-ngejap. “Oh… ya. Itu yang aku lupa.” Ia meraih gelas dan meneguk air di dalamnya banyak-banyak. “Aku ketemu Shinji sore tadi. Tapi entah kenapa aku nggak ingat. Aku bangun tidur dan…”
Lea tak melanjutkan mencoba mengingat-ingat. Namun misteriusnya, tidak ada satu pun yang bisa ia ingat sekarang. “Otakku kaya kosong.” Ia meletakkan gelas yang sudah kosong di permukaan meja.
“Arata pasti nyentuh kamu di satu titik yang—mungkin, menghilangkan memori kamu untuk sementara. Kamu jatuh di depan dojo sore tadi, dan tidur di aspal,” ia buru-buru menambahkan saat kening Lea kembali memunculkan kerutan. “Sisi panggil Arata, karena kamu nggak mau disentuh oleh siapa pun. Dan waktu Arata datang, kamu sudah tidur di aspal. So…, mungkin, karena suatu hal, Arata mesti membuat kamu benar-benar tidur pulas.”
Lea menghela napas. Kembali mencoba memeras otaknya untuk memunculkan sedikit ingatan tentang kejadian sore tadi. Tapi yang muncul hanya saat ia keluar dari kamarnya, duduk di depan ruang perpustakaan bersama Kenneth, lalu Eiji yang menyampaikan informasi perihal jati dirinya, kemudian Juna yang… menyentuhnya dan—dia menepis ingatan tentang itu, tapi tak ada satu pun rekaman pertemuannya dengan Shinji.
“Menyiksa sebenarnya,” gumam Lea lirih. “Tidak boleh sembarangan menyentuh dan disentuh orang lain.”
“Karena itu kamu harus berlatih dengan Kenneth secepatnya.”
Lea menjingkatkan alis pada Juna.
“Kamu bisa belajar, bagaimana cara mengendalikan apa yang ingin kamu lihat dan tidak, dengan bantuan Kenneth,” ulang Juna lagi. “Jadi kamu nggak perlu cemas lagi soal sentuh-menyentuh orang.”
“Benarkah?”
Juna mengangguk mantap. “Salah satu skedulmu yaitu belajar mengendalikan pikiran dan diri kamu sendiri sampai kamu berhasil. Karena tanpa itu, tahap selanjutnya nggak bisa dilakukan.”
“Tahap apa?”
Juna mengembangkan salah satu ujung bibirnya. “Berlatihlah dengan Kenneth. Kamu akan tahu nanti.”
Mata Lea berputar ke atas. “Oh, aku benar-benar bingung, apa yang terjadi sebenarnya.” Ia menutup mulutnya dengan satu tangan. “Kenapa tidak ada yang menjelaskan padaku dengan sedetail-detailnya? Kenapa serba rahasia… padahal aku sudah berusaha menerima kenyataan tentang diriku sendiri, meskipun absurd.”
Absurd. Karena kamu masih menganggap begitulah, kenapa semua hal harus diberitahukan pelan-pelan. Karena kamu nggak akan percaya, dan mungkin menerimanya dengan skeptik penjelasan apa pun yang diberikan. Pelan-pelan… itu lebih baik. Meanwhile, lakukan apa yang kamu diminta lakukan.”
“Apa yang harus saya lakukan?”
Take it easy, Lea,” kekeh Juna. “One step at a time.”
“Kenapa nggak Chef aja yang kasih tahu aku?”
“Karena bukan wewenangku.”
“Apa harus Eiji yang mengatakan semuanya padaku?”
Juna mengangguk singkat. “Itu pun tidak semuanya. Riskan.”
“Kenapa?”
“Kamu masih labil secara fisik maupun emosi.”
“Eiji bilang, aku adalah” (Lea sedikit canggung mengatakannya) “Reiki. Jadi seharusnya… tidak perlu ada lagi yang ditutupi dariku kan?”
“Kau bisa disebut Reiki, kalau kau benar-benar telah menerima siapa dirimu. Tidak lagi ragu, dan siap menerima semua tanggung jawab yang dibebankan padamu. Tanggung jawab yang tidak mudah, pastinya. Karena akan membuatmu harus mengorbankan beberapa hal yang penting dalam hidup.”
Setelah mengatakan itu, Juna memalingkan muka dan mengatupkan bibir. Dari ekspresinya, ia sepertinya merasa bersalah karena telah mengatakan itu pada Lea. Sedangkan Lea, ia cuma bisa memandang Juna dengan tatapan tak paham yang penasaran. Ingin menuntut Juna menjelaskan maksud dari kalimatnya, namun batal, karena kemunculan Dai yang mendadak di dapur.
“Kalian di sini?” Dai menanyai Lea dan Juna dengan nada heran. Menyeret sandal kamarnya yang lusuh dan bocel-bocel. Hanya mengenakan kaus oblong putih dan celana pendek saja. Lea tidak pernah melihat penampilan Dai seperti ini sebelumnya.
“Lea lapar.” Juna berdiri dari kursinya, dan berjalan meninggalkan keduanya menuju kulkas.
“Ya,” angguk Lea buru-buru. “Sangat lapar.”
“Kamu sudah ok?”
“Ya. Ok.”
“Aku cemas dengan keadaan kamu, Lea,” ujar Dai. “Maaf, kalau semua ini begitu memberatkan fisik dan psikologismu.” Dai kelihatan tampak menyesal.
“Oh. Jangan begitu. Aku yang… Well, semua ini memang amat membingungkan untukku. Aku masih harus banyak belajar untuk mengontrol diriku sendiri, karena… entahlah.” Ia mengedikkan bahu, karena tidak dapat lagi menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Merasa konyol sendiri mendengar semua yang keluar dari mulutnya semacam suara tumpang-tindih dan membabi buta di telinganya. “Aku… minta maaf karena merepotkan.”
Dai mendengus tersenyum. “Apa… kamu baik-baik saja? Kepalamu? Arata mengatakan sempat… membantumu siang tadi.” Ada gurat enggan di wajah Dai.
“Kepalaku baik-baik saja. Cuma, mungkin aku agak lupa beberapa hal.” Lea menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
“Besok pasti ingatanmu kembali. Dan, kamu bisa berlatih dengan Kenneth sore hari.” Dai duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Juna. “Kamu akan belajar bagaimana mengontrol pikiranmu, dan juga diri kamu sendiri.”
Lea menoleh ke arah Juna yang berjalan pelan mendekat, dengan sebotol juice guava yang sedang diteguknya. Kelihatannya tak ingin terlibat pembicaraan. Lea segera menghadapkan mukanya lagi kepada Dai, menganggukkan kepala.
“Makanmu sudah selesai?”
“Ya.”
“Kalau begitu sebaiknya kamu kembali ke kamar untuk istirahat. Sudah lewat tengah malam.” Dai tersenyum.
Lea mengembuskan napas dan kembali mengangguk. Menahan diri untuk bertanya pada Dai, latihan apa yang harus dilakukannya bersama Kenneth. “Aku balik ke kamar kalau begitu.”
Sleep well.”
Thanks.” Lea bangkit dari kursi, dan menggerakkan kaki pergi. “Night, Chef,” pamitnya pada Juna. “Thanks untuk telur dadarnya.”
You’re welcome. Sleep well.” Juna tersenyum, dan Lea pergi.
……………..

Lea baru tidur saat kokok ayam telah terdengar, dan bangun sebelum matahari benar-benar menyemburatkan sinar lembut di angkasa. Banyak yang ia pikirkan, sehingga membuat matanya sulit menutup. Dan setelah tertutup pun, rasa cemas yang tak beralasan membangunkannya lagi. Membuatnya bergegas meninggalkan kasur empuknya, mandi, dan menunggu sampai jam tujuh tiba dengan duduk menyilangkan kaki di lantai sambil menatap kosong ke arah pintu. Bergegas keluar kamar sebelum jarum panjang di jam dinding baru sampai di angka sebelas.
Patrice telah berdiri di depannya saat pintu membuka. Satu tangan membeku di depan hidungnya, sepertinya baru saja akan mengetuk pintu kamar. Ekspresinya sama kagetnya dengan Lea.
“Maaf, saya baru mau membangunkan Nona,” ujar Patrice, ditemani senyum yang agak grogi.
“Saya sudah bangun dari tadi.” Lea melangkah keluar kamar, menutup pintu di belakangnya. “Ada apa?”
Patrice tersenyum. “Cuma mau bertanya apa Nona mau sarapan bersama yang lainnya pagi ini.”
“Oh. Ya. Tentu.” Untuk pertama kalinya Lea merasa senang.
“Biar saya antar kalau begitu,” ujar Patrice sopan.
Ia mundur selangkah, untuk mempersilakan Lea berjalan lebih dulu. Lea benar-benar berharap Patrice atau yang lainnya tidak melakukan itu setiap kali ia bersama mereka. Tapi mau bagaimana lagi? Bagaimana pun hebatnya ia menolak, Patrice pasti bergeming. Jadi ia cuma mengangguk, dan berjalan menyusur koridor.
“Sudah berapa lama kamu bekerja di Black House?” Lea mencoba berbasa-basi, ketika mereka beriringan menuruni tangga. “Maaf, kita belum pernah bercakap-cakap sebelumnya.”
“Nona tidak perlu minta maaf,” ujar Patrice sopan. “Saya, sudah lama bekerja di Black House.”
“Kakak saya Mina, sepertinya seumuran denganmu.”
Patrice hanya tersenyum. Mengarahkan Lea untuk berjalan lebih dulu saat mereka telah tiba di lantai satu yang—lagi-lagi—sepi.
“Apa kamu dan pelayan lain memang dilarang untuk bicara denganku?”
Patrice terkekeh pelan. “Tentu saja tidak, Nona. Saya dan yang lain tentu akan menjawab apa pun yang Nona tanyakan, bila kami tahu jawaban dari pertanyaan Nona.”
Lea mencibir samar. Patrice jelas berbohong—berbohong halus. Ia dan yang lain pastinya tidak diperkenankan bicara sembarangan dengannya oleh Dai atau pun Eiji.
“Aku kesepian,” keluh Lea, berjalan gontai menyusur koridor lebar yang membawanya ke ruang belakang. “Kalau saja kamu mau bicara denganku seperti halnya teman dengan temannya…” Ia memandang Patrice untuk melihat reaksinya, “pasti akan membuat perasaanku lebih baik.”
Patrice melengkungkan bibirnya yang mungil. Balas memandang Lea dengan mata yang sedikit berair. Ada sedikit harapan timbul di hati Lea kalau Patrice akan menyambut kata-katanya dengan senang , namun langsung pupus begitu perempuan cantik itu berkata, “Saya tidak bisa berbicara dengan manner yang tidak seharusnya dengan majikan saya. Saya bertanggung jawab atas pekerjaan juga sikap saya di  tempat yang telah memberi saya banyak kesempatan.”
Lea menelan ludah, dan tak lagi bicara. Ia ingin mengatakan pada Patrice, kalau ia bukan majikannya. Namun percuma saja menurutnya. Kakinya ia biarkan melangkah mengikuti Patrice, yang berjalan lebih dulu dan membuka pintu ganda kaca yang menutup, mempersilakannya menjejak teras lebih dulu, dan segera menemukan Dai, Kenneth, Juna, Malini serta Shinji duduk mengelilingi meja marmer bundar di tengahnya, baru saja memulai sarapan. Eiji tak ada.
Melihat Lea, sapaan selamat pagi segera diucapkan oleh semuanya. Semua, kecuali Shinji yang sepertinya lebih memilih untuk menghabiskan kopi di cangkirnya.
“Pagi, Nona.”
Lea menoleh dan melihat Arata sudah berada di sampingnya. Ia membalas sapaannya (dengan kikuk), dan menerima tawarannya untuk menarikkan kursi untuknya. Mengucapkan terima kasih kepada Arata setelahnya, dan duduk manis bersebelahan dengan Shinji dan Kenneth.
“Mohon maaf, atas kejadian kemarin,” ucap Arata, dengan wajah tersenyum namun menyiratkan rasa bersalah. “Saya terpaksa menotok Nona agak tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mohon maaf bila hal itu mungkin membuat Nona tak nyaman setelahnya.”
Lea mengejap-ngejap. Ia sedang berusaha mencerna permohonan maaf Arata yang mendadak. Tak paham, kenapa laki-laki jangkung itu meminta maaf padanya. Tapi setelah teringat, ia langsung mengangguk panik. Mengatakan pada Arata bahwa ia tak perlu memaafkannya atas apa pun, karena Arata hanya bertujuan menolongnya. Arata mengucapkan terima kasih, menganggukkan kepala hormat, lalu mempersilakan Lea sarapan bersama yang lainnya.
“Pagi, Shin,” Lea menyapa Shinji,  dan tak mendapat jawaban.
Respon dari Shinji hanya jingkatan alis yang ogah-ogahan, seraya menyuapkan potongan roti ke dalam mulutnya. Lea yang ingatannya tentang Shinji sudah kembali sejak subuh tadi memandangnya dengan prihatin. Ia berusaha keras tak berpikiran buruk mengenai Shinji, walaupun sikapnya sekarang sungguh menyebalkan.
“Kamu mau roti, Lea?” Kenneth menawarkan. Menyodorkan keranjang rotan mini berisi beberapa roti.
“Terima kasih.”
Lea menjulurkan tangan untuk menerima keranjang roti tersebut. Mengambil satu roti, dan meletakkannya di piring di depannya. Sempat bertemu pandang dengan Malini, dan bersumpah kalau Malini tersenyum padanya kalau saja ia tidak buru-buru menundukkan kepala untuk memutus kontak mata dengan Lea.
Kenneth meletakkan selai kacang, selai strawberry, serta butter lurpark di dekat piring Lea. Ia juga menuangkan jus jeruk dari teko kaca ke gelas Lea yang masih kosong. Lea mengucapkan terima kasih secara verbal dan juga batin. Bersyukur karena masih ada orang seperti Kenneth di Black House yang sepertinya tak kelihatan terikat dengan tata karma atau apa pun itu di dalamnya. Ia juga baik, dan amat perhatian. Well, ia dan Juna lebih tepatnya.
Tapi saat ini Juna tidak memandangnya. Ia sibuk dengan pisau dan garpu roti yang beradu di atas roti tawarnya. Dan sampai akhirnya Lea selesai mengoleskan lurpark ke rotinya, Juna belum mengarahkan mata ke Lea sama sekali. Membuat Lea jadi bertanya-tanya dan sedikit merana.
So,” Shinji bersuara. Meletakkan linen yang sebelumnya ia pergunakan untuk menyeka mulutnya. “Ada apa?” Tatapannya lurus ke arah Dai yang masih membaca koran pagi. “Kenapa mendadak kamu mengumpulkan kami semua untuk sarapan?”
Dai tak langsung bereaksi. Tetap menekuni korannya selama beberapa detik, dan baru melipatnya setelah Shinji menyandarkan punggungnya dengan gusar ke belakang diiringi dengus kesal. “Aku cuma mau makan pagi sama-sama.”
Ia meletakkan koran yang terlipat rapi di sebelah piringnya yang sepertinya belum tersentuh. “Kamu terutama, jarang sekali sarapan sama kami. Aku pikir sudah saatnya kamu pindah ke Black House untuk—”
No,” tukas Shinji cepat. Diperkuat dengan gelengan kepala mantap. “Aku nggak mau tinggal di Black House. Dan kamu, atau siapa pun itu nggak akan ada yang bisa paksa aku.”
Dai menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Badannya terdorong ke depan, dan ia meletakkan kedua siku di permukaan meja. Menautkan jari-jemarinya.
“Lea sudah ada di sini. Akan lebih baik kalau kalian bisa tinggal sama-sama.”
Bukan cuma Shinji yang berjengit mendengar kata-kata Dai. Lea pun sama. Sambil mengunyah pelan roti di dalam mulutnya, ia menatap Dai kebingungan. Melihat sekeliling, dan menemukan tak satu pun memandang kepadanya atau pun Shinji; Kenneth sibuk menyuapkan roti ke mulutnya, dengan ekspresi seakan tak mendengar dialog apa pun yang berlangsung di meja makan; Malini, kendati muram, memilih untuk tetap berkonsentrasi menghabiskan irisan stroberi di piringnya. Dan Juna, yang sekarang meneguk air putih dari gelasnya, tampangnya datar. Memandang kosong ke arah pintu kaca yang membuka, seolah melihat sesuatu yang menarik untuk diamati.
“Apa ada yang akan berubah, kalau aku dan Lea tinggal bersama-sama?” tanya Shinji bernada gusar. “Apa semua akan merubah keadaan? Keadaanku terutama.”
“Kamu tahu itu akan terjadi dan harus terjadi. Kamu sudah diberitahu oleh Eiji sejak lama. Lebih cepat lebih baik.”
Dengus tawa, dan Shinji menolehkan muka untuk pertama kalinya pada Lea dengan pandangan meremehkan. “Look at her,” katanya lagi pada Dai. “Dia sendiri belum tahu siapa dirinya. Dia lemah, manja, dan bodoh.”
Kepala Lea panas, dan ingin sekali membalas Shinji. Namun teguran keras dari seberang meja mendahuluinya. Malini melotot pada Shinji, memintanya untuk menjaga lisannya. Tapi Shinji tetap bicara, mengabaikannya.
“Dia nggak ingin ada di sini. Sama seperti aku, yang jelas-jelas nggak mau ada di sini. Aku dipaksa berada di sini. Begitu pun dia. Dengan menyatukan kami berdua, apa yang kalian harapkan? Apa nggak ketinggian? Menyelamatkan dunia? Bull-shit! Kalian cuma sekelompok orang gila—”
“Dan para orang gila ini menyelamatkan hidup kamu yang cuma tinggal beberapa senti lagi. Kamu jangan lupa itu.” Dai tersenyum. Tenang. Sama sekali tak menunjukkan emosi.
“Aku nggak perlu diselamatkan. Aku memilih mati.”
“Kamu bisa bilang itu pada Lea. Dia bisa membawamu ke tempat yang sama dimana kamu seharusnya mati. Bila, dia sudah tahu bagaimana caranya.”
Lea tak mengerti maksud Dai, namun ia tak mau berpikir keras untuk itu. Argumen Shinji dan Dai sekarang sudah cukup membuat butek otaknya. Kalau bisa ia ingin cepat-cepat pergi dari sini.
“So, Lea,” Kenneth mendadak bicara, dan Lea tersentak karenanya. “Apa kamu mau berlatih bersamaku?” Ia menyeka bibirnya dengan tisu, lalu berdiri dari kursi.
“Sekarang?” Lea memandang sekeliling, seolah minta persetujuan. Namun seperti sebelumnya tak seorang pun memandangnya, jadi ia kembali mendongak ke arah Kenneth.
“Ya. Kamu juga sepertinya nggak niat makan sarapan kamu. Jadi, gimana kalau kita langsung latihan?”
Lea mengangguk, dan bangkit dari kursi. Langsung terhuyung mundur hingga membentur tepi meja demi menghindari tangan Kenneth yang terjulur kepadanya.
“Kenapa? Aku cuma mau bantu kamu.” Tangan Kenneth tetap membeku di udara. Menunggu. “It’s ok. Just hold.”
“Aku nggak bisa,” geleng Lea putus asa. “Kamu tahu aku nggak bisa.”
“Percaya padaku, Lea. Dan pegang tanganku.”
Tatapan Kenneth yang meyakinkan membuat Lea ragu. Lagi, ia menoleh ke belakang, tapi kemudian berpikir kalau akan sia-sia saja meminta pendapat siapa pun sekarang. Ia mengangkat tangannya pelan, dan masih dengan cemas menyentuhkan satu jemarinya ke tangan Kenneth yang membuka, sampai akhirnya seluruh jarinya melekat sempurna dalam genggamannya.
Tak ada yang terjadi.
Tak ada satu pun kilasan, gambaran atau apa pun itu yang biasa berkelebat setiap kali ia menyentuh orang lain. Sambil menatap Kenneth penuh tanya ia melangkahkan kaki. Menuruti Kenneth yang menuntunnya pergi menjauhi meja marmer.
Ia lupa semua kegundahannya. Secercah harapan muncul menyeruak benaknya yang sebelumnya kosong dan kelam. Berpikir, kalau ia bisa menyentuh Kenneth tanpa ada suatu pun yang terjadi, ia tentu bisa menyentuh orang lain lagi tanpa dihantui kecemasan yang belakangan ini menguntitnya.

Mina adalah orang pertama yang muncul di kepalanya. Juga—entah kenapa—Juna.
(Bersambung)

gambar dari sini

Read more...

The Adorables (11): Snow, water, and fireflies

>> Sunday, March 27, 2016

Baca: The Adorables (10)

Snow, Water, and fireflies

RUMAH itu sepi. Dan Lea tak mau mengganggunya sedikitpun. Memijakkan kaki satu per satu di undakan teras sepelan yang ia bisa, kendati lantai kayu yang ia lewati kala menyeberangi teras tetap saja berderit menahan beban tubuhnya. Pintu yang ia tuju tertutup rapat, dan ia tahu seseorang bisa aja muncul dari dalam untuk menyambutnya. Namun sampai akhirnya ia tiba di depannya, pintu tak terbuka. Tak terdengar suara apa pun dari dalam sana. Sama seperti sebelumnya, saat kali pertama ia datang ke rumah ini.
Diketuknya pintu beberapa kali sebelum memutuskan masuk tanpa diundang ke dalam rumah. Orang yang ada di dalamnya jelas tak mendengar atau terlalu malas untuk menerima tamu. Atau mungkin, sedang berlatih jurus baru, seperti yang dikatakan Kenneth beberapa jam lalu. Tapi, Dojo kosong. Pintu dan jendela menutup rapat. Tak ada seorang pun di dalam. Lea telah melewatinya tadi.
Sekarang ia ada di ruang tamu, menukar sepatu conversenya dengan sandal kamar di rak sepatu. Sekali lagi memandang sekeliling ruangan yang masih sama seperti ingatannya di awal. Hammock ungu masih menggantung di tengah ruangan. Sepeda putih masih disandarkan di dekat rak kayu susun di salah satu dinding. Hm. Sepertinya sudah lama sekali sejak ia berada di sini. Ya. Sudah lama sekali.
Diteguknya cairan di dalam mug yang dibuatkan Juna untuknya. Rasanya seperti teh, hanya saja bearoma lemon dan sedikit asam. Hangat, dan amat menenangkan ketika melewati kerongkongan. Meskipun pikirannya masih penuh, namun ia merasa semua akan baik-baik saja—setidaknya untuk saat ini. Sepertinya Juna, selain memasak, juga ahli dalam membuat ramuan sejenisnya. Bakatnya datang dari dalam, sehingga dia bisa membuat sesuatu untuk dicerna oleh orang lain dengan sempurna tanpa perlu mengikuti pendidikan akademis. Natural born cook, sebutannya. Seakan saja alam telah membentuknya sendiri. Memilihnya.
Hm. Lea teringat kembali kalimat Eiji beberapa saat lalu, perihal ‘pilihan alam’ atas orang-orang yang terpilih untuk mengusung kemampuan istimewa. Apakah Juna salah satunya? Energi apa yang ia miliki? Air mungkin? Atau api? Tapi—ah, Juna bukan Kuroi. Dia… hanya bekerja di Black House, dan kebetulan punya talenta untuk memasak dan meramu. Dan Eiji mengatakan bahwa, hanya beberapa dari tiap generasi di keluarga Kuroi yang mempunyai kemampuan tersebut. Jadi tidak mungkin. Dia bahkan, tidak kelihatan seperti orang Jepang. Kulit putihnya tidak cukup membuatnya kelihatan seperti laki-laki yang berasal dari sana.
Bah! Kenapa dia jadi memikirkan Juna?
“Shin…” Panggilnya seraya menggerakkan kaki ke arah koridor. Memasuki ruang tengah—yang penuh kanvas lukisan, memandang sekeliling dan meyakini kalau ruangan tersebut benar-benar kosong.
Ia memanggil lagi, dan kembali tak mendapati jawaban. Melangkahkan kakinya lagi menyusur koridor, sempat berpikir untuk menuruni anak tangga di sisi kanan, tapi dengan cepat diurungkannya dan terus berjalan masuk ke dalam. Tak sampai dua detik ia sampai di ruangan lain; ruang duduk dengan sofa besar empuk yang menyatu dengan dapur, dan jauh lebih terang karena cahaya matahari yang masuk tanpa hambatan melalu jendela-jendela besar menghadap pekarangan rumput di belakang. Tapi, sosok Shinji tetap tak ada di mana pun.
Apa dia ada di ruangan bawah itu? Pikir Lea. Haruskah ia ke sana? Tapi… apa sopan? Bagaimana kalau ruangan di bawah itu adalah ruangan yang benar-benar pribadi untuk Shinji, dan tidak seorang pun diperkenankan ke sana? Tapi—Apa lebih baik ia kembali saja ke Black House?
Masuk ke rumah orang tanpa ijin itu tindakan kriminal.”
Lea tersentak saking kagetnya. Melempar mugnya, terhuyung mundur dan hampir jatuh kalau saja tangan Shinji tidak mencengkeram lengannya tepat waktu dan mengembalikannya ke posisi tegak berdiri. Refleknya luar biasa. Tampangnya bahkan datar saja saat menarik Lea tadi.
“Apa kamu selalu muncul mendadak begitu?” sembur Lea mengelus-elus dadanya yang naik-turun. Tampang sewotnya langsung berganti dengan jengitan begitu melihat kacamata hitam yang bertengger di depan mata Shinji. Apa-apaan dia, pikirnya.
“Apa kamu selalu masuk tanpa ijin?” balas Shinji, memasukkan satu tangan ke saku jins denimnya. Sementara tangan satunya lagi membuka kancing atas polo shirt merah yang ia kenakan.
“Aku sudah ketuk pintu tadi, tapi nggak ada yang jawab.”
“Kamu bisa tekan bel.”
Eh. Memang ada bel? “Aku nggak lihat.”
Lea buru-buru melangkah ke arah mug yang sekarang tergeletak di lantai tak jauh darinya. Isinya berceceran  di mana-mana. Ia membungkuk mengambilnya, menegakkan badan lagi, dan berpaling. “Ada lap? Aku mau bersihkan lantai.”
“Juna sering kasih ramuannya ke kamu?”
“Ya. Tapi kalau memang aku harus minum saja.”
Karena pertanyaannya tak dijawab, Lea melenggang ke dapur dan menaruh mug di bak cuci piring. Setelah itu ia menyambar lap dari counter, dan kembali ke ruang duduk. Melewati Shinji yang bengong memandangnya, kemudian berjongkok. Mulai membersihkan cairan dari dalam mug yang tumpah.
“Lalu… apa yang kamu rasakan setelah minum ramuan yang dia kasih?”
“Biasa saja,” jawab Lea acuh tak acuh. “Cukup menenangkan. Kamu sendiri, ngapain pakai kacamata hitam begitu?”
Shinji menghampiri sofa, kemudian duduk di salah satu sofa tunggal berlengan tak jauh dari Lea. “Mataku sakit.”
Lea berdiri, memandang sekitar lantai untuk mengecek kalau masih ada sisa ramuan yang tercecer. “Sakit bagaimana?”
Shinji tak menjawab. Mukanya lurus ke arah jendela, walaupun tidak bisa dipastikan apakah matanya juga turut lurus ke depan. Lea tak mau mendesaknya bicara. Ia mengedikkan bahu, kemudian berdiri dan berjalan ke dapur untuk mengembalikan lap serta mencuci mug yang ia tinggalkan di bak cuci.
“Ngapain kamu kemari?” Suara Shinji mengatasi bunyi air yang menyembur dari keran ke mug yang sedang Lea cuci. “Bukannya seharusnya kamu ketemu Eiji siang ini?”
Hm. Rupanya pertemuannya dengan Eiji merupakan berita yang harus diketahui semua orang di Black House. “Eiji bilang kamu khawatir padaku, dan dia menyarankan aku untuk ketemu kamu.” Lea meletakkan mug yang sudah bersih di wadah sebelah bak cuci. “Jadi aku kemari.”
Shinji mendengus sinis. “Eiji orang paling manipulatif yang aku tahu,” ujarnya. “Jangan sampai dia memanipulasi kamu juga. Aku nggak pernah khawatir pada orang yang nggak ada hubungannya denganku. Jadi bohong, kalau dia bilang aku mencemaskan kamu.”
Lea menelan ludah seraya menyeka tangannya yang basah dengan tisu, kemudian melemparnya ke tempat sampah di samping konter. Ia tidak marah mendengar kalimat Shinji, melainkan jengkel karena memaksakan diri kemari hanya untuk melihat sikap arogan dan mendengar kata-katanya yang satir.
“Kalau gitu aku balik ke Black House saja. Dan aku akan bilang Chef Juna untuk buatkan ramuan untuk mata kamu.” Lea berjalan santai keluar dapur.
“Aku nggak akan minum atau konsumsi apapun dari dia.”
“Kenapa begitu? Nggak ada yang salah kan sama ramuannya”
Shinji menolehkan mukanya ke arah Lea yang bersedekap. “Eiji belum memberitahu kamu rupanya? Soal siapa kamu,”—(“Sudah,” sela Lea)—“Black House, dan orang-orang di dalamnya? Termasuk Chef Juna kesayangan kamu itu?”
“Eiji akan memberitahuku nanti,” tutur Lea kalem, berusaha tidak kelihatan terganggu dengan perkataan Shinji. “Masih banyak waktu untuk itu.”
Shinji mendengus tertawa. Menundukkan kepala sejenak seraya menggeleng. “Setelah mereka menemukanmu…, setelahnya adalah membuatmu untuk memercayai semua kata-kata mereka, kemudian mereka akan menyuruhmu melakukan sesuatu yang tidak akan pernah kamu bisa lupakan seumur hidup. Dan waktu akan berjalan begitu cepat tanpa kamu sadari, dan ketika akhirnya kamu sadar, sudah begitu terlambat untuk kembali. Dan kamu akan menyerah. Pasrah.”
“Aku nggak ngerti apa yang kamu bicarakan,” ujar Lea dengan kening dikerutkan.
“Kamu nggak kangen kakak kamu?”
“Eiji bilang Mina boleh berkunjung kemari.”
Lagi, Shinji tertawa sinis. “Dengan waktu yang ditentukan olehnya. Dan… tanpa ada kesempatan untuk kamu keluar dari Black House.”
“Pasti ada alasannya kenapa.”
“Sudah sebegitu percayanya kamu sama dia?”
“Aku nggak ada pilihan.” Lea mengempaskan napas tajam. “Yang penting…, aku bisa ketemu Mina lagi. Itu saja cukup. Andaikan aku nggak percaya…, aku akan coba memercayainya. Aku lelah.”
Ujung-ujung bibir Shinji tertarik membentuk senyum. Ia menghela napas panjang, mengembuskannya perlahan, kemudian bangkit dari sofa.
“Apa Eiji sudah bilang…, siapa aku?” Ia memutar badan menghadap Lea, dan pelan melangkah mendekat.
“Aku cuma tahu… kalau kamu bukan…”—Lea menelan ludah susah payah—“Kuroi.”
“Ya, memang.” Jarak Shinji dengan Lea semakin dekat. “Nama belakangku bukan Kuroi seperti nama belakang kamu dan Eiji.”
Lea mundur sedikit. Entah kenapa jadi merasa terintimidasi. “Tapi… kamu adalah pewaris Kuroi. Dai bilang padaku.”
“Itu cuma kamuflase.” Shinji berhenti beberapa senti di depan Lea. “Agar…, nggak ada seorang pun tahu aku di sini selama ini. Kalau aku… hidup.”
Lea menengadahkan muka. Alisnya berkerenyit. Tapi bibirnya tak bergerak; tak mau menanyai Shinji maksud dari perkataannya.
“Selama pewaris Kuroi yang sah belum muncul,” Shinji melanjutkan, “status itu tetap akan melekat padaku. Begitu pun ciri-ciri khas yang ia miliki. Tapi…, begitu ia muncul, aku adalah diriku sendiri, begitu pun nama belakang dan ciri-ciri asliku. Seperti ini.”
Yang dimaksud ‘ini’ oleh Shinji adalah ketika ia menarik lepas kacamata hitamnya, dan menunjukkan fakta yang disembunyikannya dari Lea. Matanya tidak ‘sakit’ seperti yang ia katakan; keduanya baik-baik saja. Hanya saja kedua manik matanya yang sebelumnya kelabu cerah sekarang hitam. Membuat penampilannya jauh lebih berbeda dari sebelumnya, dan mengingatkan Lea atas penglihatannya beberapa jam lalu, kendati mata Shinji tak sepenuhnya hitam seperti yang ia rekam di ingatan.
“Kenapa… kenapa mata kamu jadi… beda?”
“Karena apa yang ditanamkan padaku satu per satu terangkat begitu kamu menjejakkan kaki di Black House. Dan ketika kamu sentuh aku tempo hari untuk kali pertama, hal itu mengesahkan semuanya.”
Lea masih tak mengerti. “Maksudnya?”
“Kamu mulai bisa melihat sesuatu dengan jelas hanya dengan menyentuh seseorang sejak kita berjabat tangan waktu itu kan?”
Lea tidak yakin, dan dia tidak berusaha meyakinkan diri. Menggiti bibirnya untuk mengatasi kebingungannya. Sama sekali tak menduga kedatangannya ke rumah Shinji malah menguak kenyataan lain yang tidak pernah terpikir sedikit pun olehnya.
“Aku… benar-benar tidak mengerti,” ia menggeleng.
Shinji mendengus. “28 April nanti semua planet akan berada sejajar dengan matahari. Kamu akan tahu nanti… siapa kamu yang sebenar-benarnya. Dan aku pastinya tahu, apa yang mesti aku putuskan untuk diriku sendiri.”
Tetap, Lea tak paham semua kalimat yang Shinji ucapkan. Namun ia tak mau bertanya. Rumit untuk mencerna apa pun saat ini.
“Kenapa tidak sentuh aku saja?” cetus Shinji tiba-tiba.
Reflek, Lea mundur. “Untuk apa?”
“Agar kamu bisa tahu apa siapa aku. Setidaknya kamu bisa mulai dari situ.”
“Nggak perlu nyentuh kamu, cuma untuk tahu betapa menyebalkannya kamu, Shin.”
“Coba saja.” Kaki Shinji bergerak maju.
Lea mundur dengan panik. Ia tidak mau Shinji menyentuhnya. Ia tidak mau melihat apa pun; masa lalu atau masa depannya. Ia tidak siap. Tapi terlambat, Shinji telah menyentuhnya. Menarik tangannya dan menempelkannya ke salah satu pipi. Dan, tentunya bisa dipastikan apa yang terjadi selanjutnya.
Lea melihat ruangan gelap dan lembap berdinding kayu yang telah lapuk dimakan rayap. Dingin, ia merasakannya. Tubuhnya menggigil hebat, namun badannya terasa panas. Kerongkongannya serasa terbakar setiap kali ia terbatuk, dan seluruh sendinya nyeri. Ia mengangkat tangannya, namun kesulitan karena tenaganya nyaris tak ada. Dan saat ia berhasil, ia terkejut melihat kurusnya jari-jarinya, melihat tulang pergelangan tangannya yang menonjol—seperti tengkorak. Tangannya lunglai ke permukaan selimut tipis dimana ia berbaring, dan ia berharap sangat kematian menjemput secepatnya. Namun tiba-tiba pintu menjeblak terbuka, dan gelap berganti terang yang muram. Seseorang masuk ke dalam, dan berjalan mendekat. Laki-laki, jangkung, tertutup mantel bulu tebal. Ia duduk di tepi dipan reyot, membuka tudung kepalanya, memperlihatkan wajah yang telah dikenalnya. Ia memanggil namanya, dan berbicara pelan yang tak mampu ia dengar. Laki-laki itu memejamkan mata, menyatukan kedua tangannya, membuka matanya lagi, kemudian menekankan ibu jarinya ke dahinya. Hangat, segera saja menjalar ke seluruh tubuhnya; terasa begitu nyaman dan menenangkan. Memberikan harapan hidup yang bertahun-tahun tak berani ia bayangkan. Kemudian, laki-laki itu mengangkatnya dari dipan. Merapatkan tubuhnya yang ringkih ke tubuhnya, menyembunyikannya di balik mantel bulu yang dikenakannya. Dalam bahasa Jepang ia berbisik, “Shinji. Mulai saat ini kau akan baik-baik saja,” dan ia berdiri. Menggendongnya, dan membawanya keluar dari ruangan reyot tersebut.
Salju. Salju sejauh mata ia memandang. Namun, badannya tidak merasakan dingin sama sekali. Dari penglihatannya yang terbatas, ia kemudian melihatnya. Beberapa orang tergeletak sepanjang langkah laki-laki yang membawanya menjauh. Darah mereka, menodai salju. Merah, gelap, mengerikan. Tapi ia tak merasa takut. Semua hal yang telah ia alami selama ini, tidak lagi membuatnya takut akan kematian.  
“Oke, cukup!” Lea limbung ke belakang. Punggungnya menghantam dinding kaca, sementara Shinji, yang berusaha menjaga tubuhnya tetap berdiri, tersengal sambil menekan dadanya yang naik-turun.
“Aku…”—Lea berusaha menegakkan badannya, “aku kembali ke Black House.”
“Kamu tidak mau bertanya apa-apa padaku?” Shinji menanyainya di sela napasnya yang memburu. “Kamu nggak mau tahu siapa aku, dan kenapa aku berada di tempat mengerikan itu?”
Lea melipir ke sisi. “Aku… aku pergi.”
Dan Lea melesat. Berlari meninggalkan Shinji dengan perasaan galau dan pikiran yang carut-marut. Terus berlari menyusur koridor dan ruangan tanpa menoleh ke belakang lagi, sampai akhirnya ketika kakinya mulai lemas dan napasnya habis, ia melambat, membungkukan badannya, lalu muntah. Persis di seberang dojo.
Mengerikan, ia membatin. Mengelus-elus dadanya yang masih berdebar. Tak habis pikir kalau Shinji menunjukkan semua itu padanya. Apa pun tujuannya, tidak seharusnya dia mengajak Lea masuk dalam memorinya yang kelam. Tapi… apakah bocah laki-laki yang digendong Eiji itu adalah Shinji? Kenapa ia seperti itu? Kenapa harus ada yang mati? Kenapa semua yang dilihatnya adalah kebrutalan? Apa andil Eiji? Siapa sebenarnya Eiji atau kuroi itu? Lea masih tak mengerti. Dan meskipun ia dikatakan adalah keturunan dari keluarga tersebut, namun semua yang dia lihat hari ini dari orang-orang yang ia sentuh membuatnya amat syok. Rasa takut mengkontaminasi pikirannya. Ia ingin pergi dari tempat ini.
Di sela-sela rasa mual, dan pertanyaan yang mendesak-desak kepalanya tentang hal yang beberapa saat lalu ia lihat, telinganya sayup-sayup mendengar suara langkah-langkah berlari mendekat.
Lea mendongak sekilas dan melihat Sisi, pelayan Black House bersama dua orang laki-laki bersetelan hitam tergopoh-gopoh menghampiri. Tampang Sisi cemas, kedua laki-laki yang mendampinginya waspada. Oh, jangan sampai mereka menyentuhnya. Sudah cukup. Ia tak mau berurusan dengan ingatan getir siapa pun lagi.
“Nona Lea!”
Lutut Lea menghantam aspal sekarang, dan dengan sisa kekuatannya ia mengangkat satu tangannya ke depan. “STOP!” teriaknya, sebelum ketiga orang itu berada dalam jangkauan tangannya. “Jangan mendekat. Jangan sentuh.”
Sisi dan kedua pria di belakangnya langsung berhenti beberapa meter darinya. Sisi jelas ingin maju, namun Lea segera menggelengkan kepala lemah.
“Jangan. Tolong panggil Chef Juna. Mintakan saya sesuatu. Saya nggak enak badan.”
“Chef Juna tidak akan datang, Nona,” Sisi segera memberitahu. “Chef Juna sedang bersama Tuan Eiji sekarang. Saya tidak berani.”
Mulut Lea membuka, kedua tangannya yang kini menumpu badannya gemetar. Ia benar-benar mual, dan kepalanya juga berdenyut-denyut membuat pening. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kakinya belum siap menyangga badannya; badannya terlalu lemah untuk bangkit. Otaknya seolah tak mau menstimulasi gerakan apa pun saat ini. Ia ingin berbaring; rebah.
“Biar kami menolong Anda, Nona,” kata Sisi dengan tampang memelas, saat Lea membaringkan tubuh di atas aspal. “Anda tidak boleh tidur di sana.”
“Lebih baik,”sahut Lea lemah. Menempelkan mukanya di atas kedua tangannya yang menempel di aspal. “Tolong, jangan sentuh saya. Siapa pun.”
“Saya akan panggil Tuan Arata.”
Dan suara langkah yang bergegas kembali terdengar, tanda Sisi telah beranjak pergi tanpa menunggu persetujuan Lea lebih dulu. Sendiri. Karena kedua laki-laki berjas hitam yang tadi datang bersamanya, tetap tinggal di tempat. 
Arata. Lea menggumamkan namanya dalam hati, dan langsung teringat hari itu. Saat Arata menempelkan jarinya di lehernya dan segera saja semuanya menghitam. Apa dia akan melakukannya lagi? Tapi sepertinya tidak perlu, karena tanpa Arata pun, Lea merasa tubuhnya sudah rileks dengan sendirinya. Ia benar-benar lelah, sehingga tak perlu lagi Arata untuk melakukan apa pun pada dirinya.
“Tolong… jangan sentuh saya,” gumamnya lemah. “Biarkan saya sendiri.”
Dia menutup mata. Dan langsung terlelap.
Lea tidak ingat, apa yang terjadi padanya saat ia terbangun dari tidurnya. Apa memang ia telah kehilangan ingatannya untuk sementara, atau memang tak terjadi suatu pun padanya sebelumnya? Yang ia rasakan saat matanya tersingkap pelan adalah perutnya yang ngilu karena lapar, serta kerongkongannya yang kering oleh dahaga. Dan ia berada di kamarnya, di atas kasur, mengenakan piyama. Sepertinya, memang tak ada apa pun terjadi padanya sebelumnya.
Ia bergeser ke tepi tempat tidur, dan menurunkan kedua kaki. Bangkit, memakai sandal kamar, dan menyeret kaki ke arah pintu di seberang. Sudah malam, batinnya saat menengok ke arah jendela yang hitam, terus menggerakan kaki mendekati pintu kamar.
Saat ia membuka pintu, tak ada seorang pun di luar. Eiji sudah tak lagi menempatkan penjaga di depan kamarnya sejak satu bulan lalu, dan para pelayan tidak pernah menungguinya lagi bila ia tidur.
Teringat Eiji, Lea seketika tersadar kalau ia telah bertemu dengannya hari ini—siang tadi. Tapi apa yang mereka bicarakan, itu yang tak dapat ia rekam. Ia berusaha mengingat, namun perutnya yang keroncongan sepertinya sudah protes keras minta diisi, dan otaknya pun menolak usahanya untuk mencoba mencari memori terkait itu.
Nanti saja, Lea menggumam dalam hati, sambil melangkahkan kaki menyusur lorong, menuju koridor membuka yang dibatasi pembatas pilar kayu menunju anak tangga yang membawanya ke lantai satu.
Sunyi. Tak ada suara kecuali jam antik yang berdetik di seberang ruangan. Lampu-lampu telah diredupkan yang berarti waktu telah bergulir menuju tengah malam. Tapi, Lea ragu semua penghuni Black House telah tidur, kendati selama ini dia tidak pernah keluar dari kamarnya menjelang larut malam. Tapi dia cukup yakin, Dai, Malini, atau pun Kenneth bukan tipe orang yang patuh pada jam tidur yang seharusnya. Entahlah.
Sekarang Lea telah berjalan menuju area belakang Black House. Berharap berpapasan dengan salah satu pelayan yang ia bisa minta bantuan untuk memberinya makanan. Namun sampai akhirnya kakinya berada di area belakang, tak ada seorang pun yang ia jumpai. Apa harus ia pergi ke dapur untuk mengecek apakah ada sesuatu yang bisa ia konsumsi untuk mengatasi laparnya? Bukan ide buruk, pikir Lea. Andaikan tak ada apa pun, ia bisa membuatnya sendiri. Mereka tidak mungkin menyembunyikan bahan makanan kan?
 Jadi ia berbelok ke kanan, menuju sebuah koridor yang tersembunyi di balik dinding. Ia pernah melihat Juna muncul dari sana, serta beberapa pelayan, saat mengantarkan makanan untuk disantap penghuni Black House. Mudah-mudahan saja ia tidak salah. Jujur saja, walau pun ia sudah sebulan berada di Black House, selain jalan menuju kamarnya atau ruang tengah, ia belum fasih benar area lain di dalam rumah besar ini. Dan tersasar di malam hari, dengan pencahayaan redup, tentunya bukan hal yang menyenangkan sama sekali. Lucu pun tidak.
Koridor yang Lea lewati, ternyata jauh lebih terang daripada ruangan sebelumnya. Meskipun begitu, karena dindingnya yang berwarna hitam pekat, tetap saja tidak menyiratkan keceriaan sedikit pun bagi orang yang melaluinya. Tak ada lukisan, atau hiasan dalam bentuk apa pun di dindingnya untuk sekadar menghibur mata. Untung saja kemudian jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya lampu di luar muncul di pandangan; juga celah-celah berbentuk bujur sangkar terbuka di sisi kanan dinding, dengan meja sodor di masing-masing tepi bawahnya. Ia sudah sampai di dapur sepertinya. Dan semoga saja ada orang di dalam sana.
Tapi ternyata, di dapur juga tak ada siapa pun. Lea melongok ke dalam, dan hanya menemukan dapur yang dipenuhi peralatan stainless tersebut dalam keadaan kosong. Tak ada satu orang pun bahkan satu suara pun.
Lea baru saja akan menggapai gagang perak pintu dapur, ketika mendadak saja terdengar suara pintu lain yang ditutup dengan agak keras dari ujung koridor. Ia menimbang-nimbang untuk mengeceknya. Namun, lampu menuju ujung koridor tidak dinyalakan, sehingga hanya gelap yang ia lihat dan permukaan pintu yang mengilap di seberang. Jadi?
Kembali saja ke dapur, Lea. Dan masak sesuatu untuk perutmu, suara di kepalanya memperingatkan, saat ia berjalan melalui koridor gelap. Tapi tekadnya sudah bulat; ia ingin tahu apa yang ada di balik pintu tersebut. Lagipula berjalan di lorong gelap begini, tidak semenakutkan itu, selama kau tidak mengharapkan ada zombie atau makhluk sejenisnya yang mendadak muncul dan menyergapmu. Yang ada hanya dirimu dan pintu yang semakin lama semakin dekat jaraknya denganmu. Dan kemudian, ketika kau telah berada persis di depannya, kau tinggal meraih gagangnya, memutarnya, lalu menariknya membuka. Mudah kan?
Tapi apa yang dilihat Lea ketika akhirnya membuka pintu besi bukan suatu yang mudah untuk dipercaya. Karena begitu pintu itu membuka lebar, yang ia lihat adalah sesuatu yang bisa disebut… kebun. Bukan kebun biasa seperti yang ada di setiap pekarangan Black House, melainkan kebun yang sarat dengan banyak tumbuhan yang belum pernah sama sekali ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Ada pohon-pohon berdaun lebat yang tingginya tidak seperti pohon-pohon kebanyakan (bonsai-kah?), melainkan hanya setinggi orang dewasa. Buah-buahan yang sama sekali tidak ia kenali bergelantungan di beberapa batangnya. Bahkan ada salah satu pohon yang buah-buah di dahannya menyala-nyala mengatasi pencahayaan temaram dari lampu-lampu yang bertengger di beberapa sudut.  Lalu, bunga-bungaan yang bentuk dan warnanya tidak seperti bunga kebanyakan, tumbuh subur dan tertata rapi di beberapa sisi. Gemerecik air terdengar, berasal dari dari kolam air dengan air mancur mini di salah satu sisinya, yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berada, mengalir turun ke parit-parit kecil yang membelah rumput berwarna ungu yang membentang di sepanjang kebun ini, mengairi seluruh tanaman dengan perlahan. Aroma di tempat ini… luar biasa. Harum, unik, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Menenangkan dan… menghantui. Dan—Lea menutup mulut saking tercengangnya—kunang-kunang kecil berterbangan. Hinggap satu-satu, dua-dua atau berekelompok di beberapa tanaman atau benda, dengan membawa cahaya mereka yang berwarna-warni. Oh my God.
Dengan berjingkat, Lea menuruni undakan kayu kecil yang membawanya ke dasar. Ia tidak tahu, apakah ia diperbolehkan menginjak rumput-rumput ungu itu begitu saja, jadi ia melepas sandalnya buru-buru sebelum melangkah lebih jauh, dan meninggalkannya di salah satu anak tangga. Menengadahkan wajah ke atas sementara kakinya dengan hati-hati melangkah, dan menemukan langit-langit transparan berbentuk kubah menjulang di atas, menunjukkan langit penuh bintang.
Sepanjang jalan, Lea tidak henti-hentinya terpukau. Tak henti-hentinya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengagumi tanaman-tanaman yang ada di tempat ini. Merasa sangat bodoh, karena tidak mengetahui ada tempat seperti ini di Black House yang seharusnya bisa ia kunjungi tiap hari untuk menenangkan diri.
Lalu, sampailah ia di tengah area, yang ditandai dengan kolam batu yang lebih besar dari kolam pertama. Tapi tak seperti kolam sebelumnya, kolam air yang ini tak ada air mancurnya. Cuma air yang beriak tenang, yang dasarnya kelam tak terlihat karena dinding-dindingnya yang terbuat dari batu-batu hitam pekat. Kendati begitu tampilannya tidak terlalu istimewa; tidak terlalu menarik minat Lea untuk mengaguminya.
Namun sesuatu yang tak terduga terjadi saat Lea hendak kembali melangkahkan kaki, untuk mengeksplor ke area di sisi lain kolam batu. Dan mungkin tak akan bisa dilupakannya sampai kapan pun. Sesosok tubuh—seorang laki-laki, tiba-tiba saja muncul dari dalam kolam, mempertontonkan punggungnya yang telanjang dan berwarna pucat, berhiaskan tato naga berwarna hitam yang memanjang mulai dari pangkal pinggul sampai ke belakang pundak kanannya. Dan kemudian, bagai adegan slow motion di film-film, menyapu air di rambutnya dengan kedua tangan besarnya. Lea kaku, tak tahu harus apa. Seluruh badannya sulit untuk digerakkan, karena otaknya terlalu syok dengan pemandangan di depannya. Separo, syok karena cemas, dan separo lagi, syok karena terpesona.
Meskipun ia tak melihat wajah si pemilik tubuh, ia mengakui laki-laki itu sempurna. Punggungnya yang lurus dan kekar sudah cukup membuktikannya. Lea tak tahu apa ia harus mengganggap situasi ini anugerah atau musibah. Tapi yang pasti, kalau laki-laki itu kemudian menoleh ke belakang dan melihatnya berdiri memandanginya, ia dengan terpaksa harus memakai cadar kemana-mana untuk menutupi muka malunya untuk berjaga-jaga kalau-kalau mereka kembali bertemu di situasi lain. Jadi, pergi secepatnya tanpa laki-laki itu menyadari kehadirannya adalah pilihan terbaik. Tak perlu kepo melihat tampangnya, sudah melihat punggungnya saja sudah cukup membahagiakan baginya. Apa sebenarnya yang ia pikirkan?
Namun baru saja ia akan berbalik, laki-laki tiba-tiba memutar kepalanya ke belakang, lalu berbalik sempurna menghadapnya. Lea kaget, begitu pun si laki-laki. Tangan Lea reflek menutupi matanya untuk mencegahnya melihat apa pun yang mungkin saja tampak setelahnya.
“Lea?” suara Juna, tidak mengesankan suara orang yang kaget sama sekali. “Ngapain—”
“Jangan keluar dari kolam,” Lea memotong kalimat Juna buru-buru, dengan satu tangan masih menutupi mata, sementara yang satu lagi ia kibas-kibaskan ke arah depan.
“Kenapa nggak boleh keluar dari kolam?”
Pertanyaan Juna itu disusul oleh suara air yang beriak dan berkecipak pelan kemudian.
Lea mengintip sedikit dari sela-sela jemarinya dan melihat Juna bergerak maju menuju tepian. Oh, dia pasti akan naik sekarang, pekiknya dalam hati. Kenapa sih, kamu nggak pergi aja, gerutu suara di kepalanya. Dasar bodoh. Oh, ngomel sih bisa saja. Tapi jujur, Lea merasa badannya menolak untuk pergi, meskipun pikirannya ingin sekali lari sejauh-jauhnya dari tempat ini. Badannya mengkhianatinya habis-habisan. Seakan menunggu Juna datang menghampiri, dan…
“Lea?”
Lea menurunkan tangannya, dan melihat Juna sudah berada di depannya. Tak seperti pikirannya, ia tidak telanjang bulat. Ia mengenakan celana kain hitam sebatas lutut untuk menutupi bagian tubuhnya ke bawah. Meskipun begitu tetap saja Lea salah tingkah. Wajah basahnya, rambut basahnya, lehernya, dadanya yang dipenuhi tato, pusarnya…, membuat kepalanya pusing dan mukanya panas luar biasa.
“Kamu oke?”
Juna mengangkat tangan, sepertinya hendak menyentuh Lea. Namun kemudian ia menurunkannya lagi. Dan Lea tahu alasannya.
“C-Chef… Saya… lapar dan nggak sengaja masuk ke sini. Maaf. Saya nggak tahu—”
“Kamu lapar?”
Lea mengangguk. “ Tapi sudah nggak lagi,” katanya buru-buru. “Saya mau—” (Lea menelan ludah susah payah) “—balik ke kamar saja.”
No, no.” Juna menggeleng cepat. “Kamu tunggu di dapur. Aku akan ke sana sebentar lagi. Aku akan buatkan sesuatu untuk kamu.”
“Nggak perlu.”
Just go, Lea. Aku menyusul.”
Lea tidak membantah lagi. Berpaling dan berlari menyeberangi kebun. Mati-matian menolak hasrat untuk memalingkan wajah sekali lagi ke arah pria yang tertinggal di belakangnya. Pria yang selama ini diidolakannya tanpa berharap akan bertemu dengannya suatu hari, dan malah menyaksikannya keluar dari air dengan bertelanjang dada di depan matanya sendiri beberapa saat lalu.
Ada apa dengan dunianya belakangan ini? Seolah saja jungkir balik 180 derajat, dan membuatnya tidak sempat mencari tahu sedikit pun karena cepatnya hal-hal terjadi padanya dan sekelilingnya. Haruskan ia berterima kasih? Atau haruskan ia bersedih? Namun bagaimana pun itu, melihat sosok dan wajah tampan Juna yang benar-benar berbeda malam ini, telah membangkitkan sesuatu yang selama ini terlelap di dasar hatinya. Hanya saja, ia belum menyadarinya seratus persen. Ia hanya…, merana. Dengan kunang-kunang berterbangan di sekelilingnya.

(Bersambung)

gambar dari sini
"Sometimes you fall in love with the most unexpected person at the most unexpected time."

Read more...
Related Posts with Thumbnails

Suka Kata-kata Ini

"You know those hugs? The ones where you're held real close and then they pull you even tigher, as if you might disappear from their life at any second? The ones that make the world disappear and everything better? Yea I'd love one of those, please."
-Indar Mahardian's Words-

Tentang Saya

My Photo
Indar Meilita
Lita is my nick name. A Taurus. Also a melancholy - choleric person. I love my Job as an HR, but I also a TAROT card reader. Complicated indeed, but sincere. I have married, and still going strong til today. Haven't got children yet, but still, I'm grateful and more grateful everyday.
View my complete profile

  © Blogger template Simple n' Sweet by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP